SASASTRA - Kota yang Menyimpan Nama

 Kota Yang Menyimpan Nama

Pada suatu malam yang terlalu sunyi untuk ukuran dunia, Aksa menemukan sebuah kota yang tidak tercantum di peta mana pun. Kota itu muncul begitu saja setelah kabut turun dari pegunungan, seolah-olah tanah sengaja membuka rahasia yang sudah lama disembunyikan.

Lampu-lampu jalan menyala redup seperti kunang-kunang yang lelah. Rumah-rumahnya kecil, berjajar rapi, namun tidak satu pun terdengar suara manusia. Tidak ada langkah kaki, tidak ada pintu yang dibuka, bahkan tidak ada anjing yang menggonggong. Hanya angin yang berjalan perlahan di antara gang sempit.

Aksa berjalan semakin dalam.

Di tengah kota itu berdiri sebuah bangunan tua—perpustakaan. Pintu kayunya terbuka setengah, seperti seseorang baru saja masuk atau baru saja pergi. Rasa ingin tahu selalu lebih kuat daripada rasa takut, jadi Aksa mendorong pintu itu.

Di dalamnya, rak-rak buku menjulang tinggi hingga hampir menyentuh langit-langit. Tetapi buku-buku itu tidak memiliki judul.

Aksa mengambil satu.

Saat ia membukanya, huruf-huruf muncul perlahan di atas halaman kosong, seperti tinta yang baru saja dituliskan oleh waktu.

"Namamu adalah Aksa. Kau pernah hampir tenggelam saat kecil, tetapi seseorang menarikmu kembali ke permukaan. Kau tidak pernah tahu siapa orang itu."

Aksa membeku.

Ia membuka halaman berikutnya.

"Setiap manusia memiliki satu buku di kota ini. Buku yang menyimpan semua yang pernah mereka jalani—bahkan yang mereka lupakan."

Jantungnya berdegup lebih keras. Ia menoleh ke rak-rak lain. Jika benar setiap manusia memiliki satu buku, berarti kota ini menyimpan miliaran kehidupan.

“Jadi… ini semacam arsip dunia?” gumamnya.

Suara lain tiba-tiba menjawab dari balik rak.

“Bukan arsip.”

Seorang lelaki tua keluar dari bayangan. Rambutnya putih seluruhnya, tetapi matanya jernih seperti seseorang yang tidak pernah tidur terlalu lama.

“Ini tempat manusia meninggalkan bagian dirinya yang tidak sanggup ia ingat.”

Aksa menggenggam bukunya lebih erat.

“Kenapa aku bisa masuk ke sini?”

Lelaki tua itu tersenyum tipis.

“Karena tidak semua orang mau tahu cerita hidupnya sendiri.”

Aksa menatap halaman berikutnya, ragu-ragu. Ia tidak tahu apakah ia siap membaca semuanya—kebahagiaan, penyesalan, dan hal-hal yang mungkin ingin ia lupakan.

Di luar, kabut mulai menipis.

Lelaki tua itu berkata pelan, “Kota ini hanya muncul sebentar. Jika kau pergi sekarang, kau bisa hidup seperti biasa. Tapi jika kau membaca sampai halaman terakhir…”

“Kenapa?” tanya Aksa.

Lelaki itu menatapnya lama sekali.

“Karena setelah mengetahui seluruh ceritamu, kau tidak akan pernah menjadi orang yang sama lagi.”

Aksa menunduk pada buku di tangannya.

Halaman berikutnya mulai menulis dirinya sendiri. 

Dan untuk pertama kalinya, Aksa merasa bahwa masa depan—yang selama ini selalu terasa jauh—sedang menunggu untuk dibaca.

Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu