SOTD - Yang Tak Terucap

Yang Tak Terucap

Oleh Rino

 

Hempasan angin di tengah terik mentari sungguh memanjakan mata para insan hari itu. Seorang gadis terlihat duduk di bangku tepat di bawah pohon beringin. Pohon itu memayunginya dari terik matahari di atas sana, namun angin yang menggoyangkan daun pohon seakan melantunkan lagu yang hanya bisa didegar oleh jiwa yang lelah.

"Saanvi....!"

Terdengar suara seseorang saat aku berdiri menatap gadis itu. Kurasa gadis itu bernama Saanvi, dan suara yang menyebut namanya tampak tak asing di telingaku. Aku berjalan mendekati gadis itu, namun semakin aku melangkahkan kaki menujunya, semakin terdengar suara-suara bersahutan memanggil nama gadis itu. Semakin sesak dadaku pun dibuatnya setiap kali aku melangkahkan kaki.

"Saanvi, dengarkan kami!"

Kembali terdengar suara orang-orang yang memanggil nama gadis itu. Suara mereka tampak tumpang tindih dan terdengar gelisah. Namun anehnya, aku tidak melihat siapa-siapa di sekitar tempat aku berdiri, di dekat tempat gadis itu duduk. Aku mencoba mendekati gadis itu, namun langkahku terasa berat. Suara-suara yang semakin terdengar setiap kali aku mendekati gadis itu, semakin menyesakkan dadaku. Namun aku tak menyerah, aku terus mendekatinya.

Aku mencoba berteriak, memanggil gadis itu dan suara-suara yang kudengar tadi. Namun nihil, tak ada seorang pun di sana, kecuali aku, gadis itu, dan suara-suara yang terus bersahutan memanggil gadis itu.

Aku memandang sekeliling. Tempat ini asing bagiku. Hanya ada pepohonan, langit yang kelabu, dan waktu yang seolah membeku.

Kemudian suara-suara itu datang lagi.

"Mengapa kau di sini?"

Aku menoleh, tak ada siapa pun kecuali aku dan gadis itu.

Tiba-tiba semuanya runtuh. Seperti cermin yang pecah, seluruh dunia yang kulihat tadi retak. Pohon beringin, angin, cahaya matahari—semuanya hancur menjadi serpihan cahaya. Namun gadis itu masih tampak duduk di sana. Aku gelisah dan berlari menuju gadis itu, tanpa merasakan sesaknya dada dan bisingnya suara yang bersahutan setiap kali aku mendekatinya.

Dan tibalah aku tepat di depan gadis itu. Diantara kepingan-kepingan dunia yang hancur ini, aku melihat gadis itu. Wajahnya tampak sedih, matanya kosong, raut mukanya seperti menyimpan ribuan kata yang tak pernah sempat diucapkan—sunyi yang begitu bising di dalam. Di sinilah aku menyadari.... 

Itu....Aku.

Gadis yang diam di bawah pohon beringin itu adalah aku. Aku adalah Saanvi. Suara yang dari tadi memanggil bukanlah suara seseorang yang kukira harus aku tolong—melainkan untuk membangunkan diriku.

Aku adalah jiwa yang terlepas dari tubuh, terjebak diantara hidup dan mati. Tapi bukan luka atau kecelakaan yang menahanku di sini. Melainkan kehilangan arah, kehilangan tujuan hidup. Aku terlalu lama hidup laksana bayangan, hingga diri ini tak kuat menopang kehampaannya.

Namun, aku sadar bahwa masih ada orang-orang yang sangat menyayangiku. Orang-orang yang selalu merangkulku dalam suka dan dukaku. Masih ada mimpi yang harus ku gapai. Masih ada setiap detik yang harus aku maknai, dan ribuan langkah yang harus aku injak dalam hidup ini.

Kini aku tahu, untuk merangkul kembali jalan yang harus kulalui, aku harus benar-benar hadir. Aku harus memilih untuk hidup dengan kesadaran penuh akan diriku, akan apa yang harus benar-benar aku jalani.

Aku menatap gadis itu, merasa kasihan pada diriku. Lalu seketika cahaya menyilaukanku, menelanku. Dan ketika aku membuka mata... Tangisan meledak di sekelilingku. Tangan-tangan menggenggamku, merangkulku, memelukku.

"Saanvi...Kau sadar! Saanvi!"

Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu