SASASTRA - Roda Itu Berputar
Roda
Itu Berputar
Firda
Nur Sabili
Saat Kita di
Atas
Sadha
Bumiseta lahir di keluarga yang sederhana dengan seorang ayah yang bekerja
sebagai karyawan swasta di sebuah perusahaan otomotif ternama dan seorang ibu
rumah tangga yang amat ia sayangi. Mereka hidup di sebuah kompleks tempat
tinggal dari perusahaan otomotif sebagai fasilitas, sebuah rumah yang terdiri
dari tiga petak kamar. Satu kamar utama untuk ayah dan ibu serta dua kamar
lainnya untuk anak-anaknya. Mereka senantiasa berbahagia, ditambah tiga tahun
setelah kelahiran Sadha, anggota keluarga mereka bertambah satu. Kehadiran
seorang anak bernama Gendhis Andini kian menambah kebahagian keluarga itu.
Sama
seperti anak lain menginjak umur tujuh tahun Sadha didaftarkan ke SD negeri
terdekat dari rumah mereka. Sadha senang bersosialisasi dan menambah banyak
teman dari kelas dan luar kelasnya. Setiap pulang sekolah rumahnya selalu ramai
dengan teman-temannya. Mulai dari bermain sepakbola dibelakang rumah atau
berenang didepan rumah. Ibunya tiap hari membua aneka minum dan camilan untuk
teman-teman putra sulungnya. Hidup keluarga itu selalu bahagia, pada hari
minngu mereka selalu menyempatkan pergi berekreasi bersama-sama. Mulai dari
taman dekat rumah sampai dengan luar kota.
Masuk
ke tahun ketiga Sadha di SD Negeri setempat, tiba-tiba Sadha dipindahkan
menunju Sekolah Internasional ternama dibilangan Jakarta. Suatu hari Sadha
merasa bosan, ia membuka laman web sekolah itu untuk melihat berapa
melambungnya harga menyekolahkan anak di sana. Sekarang ketika ia melihat semua
fasilitas yang ditawarkan, in langsung menyetujui rajuan ibunya untuk dipindahkan
ke sekolah tersebut. Ketika kedua orang tua mengiyakan dan ia tidak sengaja
mendengar uang masuknya, ia sedikit terkejut. Bagaimana mungkin mereka bisa
membayar jumlah besar uang yang tidak pernah Sadha bayangkan mereka miliki.
Namun
setelah itu, kehidupan mereka menjadi lebih nyaman. Ibunya mulai mendatangi
pusat perbelanjaan kelas atas, menenteng banyak paper bag dengan
nama-nama merek mahal yang terpampang di tas-tas tersebut. Ayahnya mengajaknya
ke Luar Negeri untuk pertama kalinya, mereka jadi lebih sering makan keluar di
restoran yang berada di dalam mall daripada di pinggir jalan, Sadha awalnya
tidak mengerti bagaimana kehidupan mereka dapat berubah dalam sekejap dari
ibunya yang suka menangis karena tidak memiliki uang untuk membelikan Gendhis baju
bergambar kartun di pasar terdekat ke membelikan adiknya baju-baju minim corak
dari brand ternama.
Jadi
suatu hari ketika ibunya berhalangan untuk menjemputnya dari sekolah dan
ayahnya yang datang dengan mobil baru mereka, Sadha tidak dapat menahan dirinya
untuk tidak bertanya, "Ayah kenapa kita tiba tiba kaya?" la tidak dan
mencari kata lain untak mengantikan kaya-semacam orang orang di TV deskripsikan
orang yang memiliki harta berlimpah, itu apa yang digunakan teman-temannya
ketika ia masuk kelas dengan sepasang sepatu menyala, itu kata teman-teman TKnya
ketika ia datang berinjung ke rumah mereka setelah mereka tidak lagi
satu sekolah.
Tidak
pernah pula ada jawaban yang memuaskan dari ayahnya selain ayah naik jabatan
dan punya gaji yang cukup buat Sadha senang. Jujur saja pada umur delapan tahun
Sadha kira jawaban itu sudah cukup hingga ia akhirnya tidak lagi memikirkan
perubahan keadaan keluarganya. Sadha terus menikmati semua fasilitas yang telah
tersedia dari ayahnya. Mengikuti berbagai jenis les pengembangan diri memakai
baju mahal nan nyaman serta selalu meminta hadiah saat mendapat peringkat.
Ketika
Kita di Bawah
Setelah
bertahun tahun menempuh pendidikan di sekolah dan universitas ternama Sadha
dengan seluruh fasilitas dan pencapaiaannya memperoleh pekerjaan dengan
mudahnya. Menempati posisi tinggi di perusahaan ternama. Sampai suatu malam
saat ia pulang dari kantor, dunia berbalik padanya. Dirumah yang megah itu
sepi, tidak ada lagi suara ibunya yang menyambut atau sekedar suara musik barat
yang diputar adiknya keras-keras. Tidak ada ayahnya yang membaca koran diteras
belakang.
Panggilan
keras dari arah belakangnya membuatnya tersentak. Itu Pak Adi supir ayahnya.
Pak Adi pucat sambil menarik tangan Sadha, mengantaran kabar yang sangat pedih
untuknya. Ayahnya ditangkap polisi, seluaruh aset disita berikut seluruh kartu
mereka diblokir. Ayah ada di lapas terdekat, ibu disana bersmaa pengacara yang
juga karib ayah, dan Gendhis ada dirumah Pak Adi.
Saat
sampai dikediaam Pak Adi yang tidak terlalu jauh, Sdha sudah tidak bisa
berpikir apa yang harus ia lakukan dan harus ia terima lebih dulu. Satu-satunya
harta yang ia punya hanya mobil dan segala yang melekat padanya sore ini. Di
rumah sederhana itu ia melihat adiknya meringkuk dan menangis. Bergetar seluruh
tubuhnya dan meratap betapa malang nasibnya. Sadha memeluk adiknya erat
meskipun ia sendiri juga belum bisa mencerna
semuanya.
Kepalanya
seperti kaset rusak yang memutar kembali kejadian bertahun-tahun silam saat
mereka berpindah rumah, membeli barang mewah dan ibunya berganti teman arisan.
Saat ayahnya lebih suka bermain tenis dibanding bulu tangkis, saat televisi
mereka tidak lagi satu. Sadha memahami semuanya perlahan sambil menenangkan
adiknya. Meskipun ia sangat sedih dan marah atas apa-apa yang dilakukan entah
ayahnya atau kedua orang tuanya.
Mulai
saat itu pula Sadha menghidupi ibu dan adiknya dengan menjual semua aset
miliknya malam itu, mengontrak rumah petak adalah satu-satu yang dapat ia
usahakan untuk kedua perempuan kesayangannya. Memulai semuanya dari nol adalah
sesuatu yang tidak pernah Sadha bayangkan sebelumnya. Gajinya terus habis tak
bersisa untuk membayar ciiclan yang ditinggalkan ayahnya dan menghidupi
keluarganya. Kadang kala ia merasa gagal menjadi sulung saat adiknya harus
bepergian menerjang panas dan hujan bersama pahlawan hijau. Melihat ibunya
menggunakan daster lusuh dan kakinya yang sering sakit menggunakan sandal jepit
pasaran.
Seusai
badai Sadha kira ia bisa bernafas sejenak, namun segalanya kembali luluh lantak
saat ia mendapat surat pemutusan kontrak kerja. Dunia kembali runtuh didepan
matanya. Ia meminta segala jenis pekerjaan kepada seluruh kolega dan temannya.
Namun nihil, tidak ada yang meau membantu seorang anak koruptor. Itulah semua
yang dia dapatkan dari segala jenis pesan dan permintaan tolong pada teman dan
kolega. Sadha pada akhirnya sadar bahwa segala yang ia bangun runtuh dalam
sekejap.
Kini
rutinitas Sadha mengembangkan usaha berjualan yang ia mulai dengan menjual jam
kesayangannya. Jam yang ia beli dengan gaji pertamanya. Dengan Jam itu ia
membangun bisnis sambil menangis darah karena kini ia tidak memiliki kenalan
orang besar dan prestige. Ia sering basah kuyup menerjang hujan, lalu demam
keesokan harinya. Pada demam dan lemas badanya pun Sadha tidak boleh menyerah.
Ada tagihan listrik dan uang SPP adiknya yang masih berkuliah. Adiknya yang
juga kini mengambil pekerjaan sampingan untuk membiayai segala jenis biaya
perkuliahannya. Ibunya lebih sering sakit dan menangis mengingat kejadian di
masa lalu.
Selalu
Ada Keseimbangan
Setelah
bertahun-tahun tinggal dipetak dan mengasingkan diri, Sadha pada akhirnya
berhasil bangkit dengan kakinya sendiri. Usaha yang ia bangun sambil
berdarah-darah membuahkan hasil. Usaha yang ia mulai dari nol tanpa bantuan
dari siapapun kini jadi nomor satu dibidangnya. Sadha pun telah berdamai dengan
segala jenis nasib dan takdir yang telah ia lalui. Ia mualai menemui ayahnya
yang masih tertahan dilapas, mengirimkan makanan dari sang ibu dan mengabarkan
perkemabnagn adiknya yang melanjutkan studi diluar negeri. Diantara
terombang-ambingnya Sadha, ia menyadari bahwa apa-apa yang diberikan ayahnya lah
yang juga membawanya sampai titik ini. Pencapaian, ilmu, dan pengalaman yang ia
dapatkan dengan fasilitas dari beliau adalah salah satu faktor berhasilnya
usahanya bahkan ketika ia harus memulai dari nol. Terlepas dari kesalahan
ayahnya. Sadha tetaplah sukses atas hidupnya.
Komentar
Posting Komentar