SOTD - Pangeran di Balik Topeng

Pangeran di Balik Topeng

Oleh Kya

 

Dikisahkan, di sebuah negeri yang damai dan indah, berdiri megah Kerajaan Lumisera. Bangunan kerajaannya dihiasi patung-patung emas dan ornamen zamrud yang berkilau di setiap sudutnya. Sungai-sungai jernih mengalir mengelilingi istana, menjadi tempat berkumpul masyarakat yang riang. Halamannya dipenuhi ribuan bunga warna-warni yang semerbak mewangi, sementara langitnya dinaungi awan lembut dengan sinar matahari yang hangat. Nama Lumisera sendiri bermakna terang dan damai—sesuai dengan keadaan kerajaan saat itu, yang dipenuhi cahaya, ketentraman, dan kebahagiaan.

Namun, keindahan itu hanyalah kenangan. Semuanya berubah sejak sebuah kutukan mengikat takdir sang pangeran, dan bayangan gelap perlahan menyelimuti kerajaan.

Kilas balik ke seratus satu tahun yang lalu, tepat di malam ulang tahun ke-10 sang putra mahkota, suasana istana Kerajaan Lumisera begitu semarak. Musik klasik mengalun merdu, para penari menari gemulai di atas lantai marmer, dan jamuan mewah tersaji melimpah. Semua mata tertuju pada Pangeran Akin, pewaris tahta satu-satunya yang tak hanya cerdas dan ramah, tetapi juga memiliki ketampanan luar biasa yang memikat hati siapa pun yang menatapnya.

Namun, di tengah kemeriahan itu, suasana mendadak hening. Seorang perempuan tua berjubah hitam muncul di tengah keramaian, melangkah perlahan namun pasti. Wajahnya tersembunyi dalam bayangan tudung gelap, tapi suaranya lantang menggema, penuh kemarahan dan dendam.

“Wahai Raja! Kau dan keturunanmu telah mengingkari janji leluhurmu padaku. Maka, sebagai balasannya, kutukan ini akan mengikat darah dagingmu!”

Dengan tongkat sihir yang terangkat tinggi, cahaya hitam menyambar tubuh Pangeran Akin. Seketika, kulitnya berubah pucat perak, matanya meredup bagai senja terakhir, dan sebuah topeng perak terbentuk menutupi wajahnya—menyegel takdirnya dalam kesunyian.

“Takdir telah ditulis! Hanya hati yang mampu melihat di balik bayangan, yang berani menantang gelap dengan terang, yang dapat mematahkan belenggu ini!” serunya sebelum menghilang bersama kabut hitam yang menelan seluruh istana.

Sejak malam itu, Kerajaan Lumisera kehilangan sinarnya. Matahari terasa redup, bunga-bunga layu tanpa aroma, dan sungai mengalir tanpa nyanyian kedamaian. Para penduduk kini perlahan kehilangan semangat hidup. Pangeran Akin mengasingkan diri di menara tertinggi. Siapa pun yang melihatnya dari kejauhan akan dihantui ketakutan terdalam mereka. Sang raja juga terpukul akan kejadian malam itu. Sang raja menghabiskan bertahun-tahun mencari tahu tentang janji leluhurnya kepada penyihir itu.

Hingga akhirnya, di ruang arsip kerajaan yang terlupakan, ia menemukan gulungan tua dengan stempel para pendiri Lumisera. "Sebagai tanda perdamaian, keturunan kita akan selalu melindungi sang penjaga malam, agar ia tidak ditelan kegelapan..."

Namun, tidak ada yang tahu siapa sang penjaga malam itu. Seiring waktu, perjanjian itu terkubur bersama sejarah yang membuat Lumisera menanggung akibatnya, dan legenda "Pangeran di Balik Topeng" selalu menetap dan menghantui kehidupan di Kerajaan Lumisera hingga saat ini.

Sampai suatu hari, dari desa terpencil jauh dari Lumisera, datanglah seorang gadis bernama Lyra. Bukan keturunan bangsawan, hanya seorang pengembara berhati murni yang percaya bahwa takdir selalu bisa diubah. Dengan tekad membara, ia menapaki jalan terjal menuju menara, tempat sang pangeran dikurung dalam bayangan.

Hingga waktu pun bergulir, dan tibalah saat gadis itu menemukan jalan menuju menara tertinggi. Dengan keberanian, ia melangkah mendekati pangeran, menatap mata sang pangeran, menembus kesunyian yang tersembunyi di balik topeng. Bukan ketakutan, melainkan kesedihan dan kerinduan yang ia lihat dalam diamnya sang pangeran.

Dengan kelembutan, ia mengangkat tangannya, menyentuh topeng itu. Seketika, cahaya hangat menyelimuti mereka berdua. Topeng perak itu retak, hancur menjadi debu. Lalu, untuk pertama kalinya dalam satu abad, Pangeran Akin menghirup udara bebas. Kilauan surya kembali menyinari Kerajaan Lumisera, bunga-bunga kembali memancarkan warnanya, dan sungai kembali bernyanyi dengan riangnya. Penduduk Lumisera bersorak, merayakan kembalinya kehidupan yang telah lama hilang, dan menatap istana dengan mata berkaca-kaca.

Pangeran Akin menatap gadis itu dengan penuh syukur.

"Siapa namamu?" tanyanya lembut.

Gadis itu tersenyum.

"Namaku Lyra. Dan aku hanya seorang pengembara yang percaya bahwa takdir dapat diubah."

Dengan tangan yang bertaut, mereka melangkah keluar dari menara, menuju dunia yang telah menanti cahaya baru.

 

 

 

 

Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu