Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2025

SOTD - Memimpikan Mimpi

  Memimpikan Mimpi Oleh Zee Aku pernah berada di titik itu. Titik paling sunyi yang bahkan suara pikiranku pun menggema terlalu keras. Titik di mana satu-satunya yang bisa kupeluk adalah bayangan, dan satu-satunya yang masih bersamaku… hanya kenangan yang tak diundang. Ada masa ketika aku masih punya mimpi—bukan satu, tapi banyak. Mimpi untuk tertawa bebas di hari Minggu. Mimpi untuk duduk di teras sambil menggoda awan yang lewat. Mimpi menjelajah dunia fantasiku. Mimpi untuk bangun suatu pagi dan tak merasa kosong. Namun sekarang, bahkan aku hanya bisa memimpikan mimpiku. Bayangkan, begitu dalamnya rasa kehilangan hingga bahkan harapan pun terasa jauh. Hari ini seperti hari-hari sebelumnya. Aku berjalan seperti biasa, bernapas seperti biasa, tersenyum seperti biasa... tapi semua itu hanya penampilan luarku. Di dalam, ada ruang gelap yang tak tahu bagaimana cara menyala lagi. Aku mencoba tidur, berharap setidaknya mimpi akan membawaku ke tempat yang menenangkan. Tapi tidur pun menj...

SASASTRA - Mailbox, I Hate It

 Mailbox, I Hate It Oleh Ryu Rachel membenci kotak surat di depan rumahnya. Dulu, benda itu tidak terlalu penting. Hanya sebuah kotak besi yang tergantung di pagar, dipenuhi brosur promo cuci sofa dan undangan pernikahan dari orang-orang yang bahkan tidak ia kenal. Namun sejak Keenan pergi; tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, dan kotak itu berubah menjadi simbol kehilangan yang menggantung di tenggorokan. Tak bisa ditelan, tetapi juga tak bisa dimuntahkan. Surat pertama datang seminggu setelah Keenan menghilang. Tanpa nama pengirim, tanpa perangko. Kertas putih, dilipat dua kali, dan tulisan tangan yang sedikit miring ke kanan. Sedikit berantakan, tapi Rachel sangat mengenali tulisan itu. "Kalau aku bilang aku baik-baik saja, aku sedang berbohong." Rachel membacanya dalam diam. Tidak menangis, tidak marah. Ia hanya duduk lama di ujung tempat tidur, menggenggam surat itu seakan-akan benda rapuh. Ia tak tahu siapa yang meletakkan surat itu di kotaknya. Tak tahu pula mengap...

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

Pangeran di Balik Topeng Oleh Kya   Dikisahkan, di sebuah negeri yang damai dan indah, berdiri megah Kerajaan Lumisera. Bangunan kerajaannya dihiasi patung-patung emas dan ornamen zamrud yang berkilau di setiap sudutnya. Sungai-sungai jernih mengalir mengelilingi istana, menjadi tempat berkumpul masyarakat yang riang. Halamannya dipenuhi ribuan bunga warna-warni yang semerbak mewangi, sementara langitnya dinaungi awan lembut dengan sinar matahari yang hangat. Nama Lumisera sendiri bermakna terang dan damai—sesuai dengan keadaan kerajaan saat itu, yang dipenuhi cahaya, ketentraman, dan kebahagiaan. Namun, keindahan itu hanyalah kenangan. Semuanya berubah sejak sebuah kutukan mengikat takdir sang pangeran, dan bayangan gelap perlahan menyelimuti kerajaan. Kilas balik ke seratus satu tahun yang lalu, tepat di malam ulang tahun ke-10 sang putra mahkota, suasana istana Kerajaan Lumisera begitu semarak. Musik klasik mengalun merdu, para penari menari gemulai di atas lantai marm...

SASASTRA - MARI PERGI SUDAHI SAJA

MARI PERGI SUDAHI SAJA  Tak habis pikir Dunia seperti mengikir Tangan seolah memanggil Memanggil untuk menggigil Pulang, resah, percuma Lari jauh kemana saja Adil pergi berkelana Tinggal sisa bodong saja Janji taruh di celana Dijinjing menerjang air kehidupan Perut melembung meledak kapan saja Roh terbang ke atas nirwana angan  Kata terlalu berdiksi Banyak omong, makna kosong Jalan masih pasir jerami Mulut berubah menjadi terbengong Tak kupikir penguasa akan begini Gemuk mereka, kempis rakyatnya Permulaan bahagia hanya ironi Lantas, dimana rubah jalannya? Rebut, kuliti, caci  Mungkin sudah menjadi tradisi Tulang bukan muda Namun ada saja prasyaratnya Sudahi saja Saatnya mendunia Hak lama sudah tiada Berubah menjadi rata sama dengan dunia Nyata, janji hanya sebatas janji semata Oleh Amanda Aprira