SASASTRA - To My First Love
To My First Love
To My First Love
People say dad is every daughter’s first love, and I guess that’s true for me too. Ayah mungkin nggak selalu menunjukkan kasih sayang lewat kata-kata, tapi aku selalu merasakannya lewat hal-hal kecil yang Ayah lakukan.
Yah, aku nggak ingat kita pernah duduk dan ngobrol lama, yang benar-benar curhat dari hati ke hati. Kayaknya nggak pernah, ya? Obrolan kita selalu singkat, hanya sekadar, “Mau minum apa?” pas Ayah pulang kerja, atau “Sudah makan?” dari Ayah.
Ayah selalu berangkat pagi-pagi, dan pulang larut malam. Kadang Ayah bukan tipe yang masuk kamarku dan tanya panjang lebar. Biasanya Ayah cuma batuk-batuk kecil di depan pintu (cara halusnya memastikan aku sadar kalau beliau lewat) lalu melongok sebentar sambil bilang, “AC-nya jangan dingin-dingin, ntar sakit.” Padahal maksud sebenarnya cuma mau lihat aku lagi ngapain.
Kadang juga Ayah tiba-tiba naruh piring berisi potongan buah di meja belajarku, lalu pergi begitu saja tanpa bilang apa-apa. “Tadi Mama bilang ini bagian kamu,” katanya. Padahal aku tahu, itu cara Ayah memastikan aku makan dan nggak kecapean.
Ayah nggak pernah menelpon berkali-kali kalau aku pulang malam. Tapi selalu ada satu pesan sebelum jam 11, biasanya seperti “Pulang. Sudah malam,” atau “Di mana? Ayah ngantuk.” Meski capek, Ayah tetap nunggu aku pulang, bukain pintu, lalu ngunci lagi setelah aku masuk. Cara Ayah memastikan aku selalu pulang dengan aman… itu yang sampai sekarang nggak pernah aku lupa.
Yah, aku jarang lihat Ayah mengeluh. Aku tahu hidup nggak selalu mudah buat Ayah, tapi Ayah tetap jalan, tetap kuat, dan tetap jadi tempat kami bersandar. Terima kasih sudah jadi seseorang yang selalu ada, meski tanpa banyak bicara.
Kadang aku penasaran, apa mimpi Ayah dulu? Apa yang Ayah inginkan sebelum hidup memaksa Ayah fokus pada keluarga? Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti Ayah bisa melakukan hal-hal yang dulu Ayah pendam demi kami.
Dari Ayah, aku belajar banyak hal tanpa perlu Ayah ucapkan. Aku belajar kuat, sabar, sederhana, dan rendah hati. Belajar mencintai tanpa perlu banyak kata.
Mama pernah bilang aku anak kesayangan Ayah, dan aku baru sadar seiring bertambahnya umur. Ayah selalu lembut ke aku, selalu sabar. Terima kasih sudah memperlakukan aku dengan cara yang begitu hangat dan aman.
Yah, aku suka lihat Ayah ketawa. Suara tawa Ayah itu hangat dan bikin rumah terasa hidup. Aku ingin Ayah tertawa lebih sering. Aku juga ingin kita ngobrol lebih banyak, bercanda lebih sering, seperti yang biasa Ayah lakukan kalau aku ulurkan tangan untuk salaman dan Ayah pura-pura mau kasih uang.
Aku sadar Ayah makin menua, rambut makin memutih, badan mulai melemah. Usia berjalan, dan jujur saja… itu bikin hatiku mencubit. Rasanya belum siap melihat Ayah menua.
Yah, maaf kalau aku jarang bilang ini. Tapi aku sayang banget sama Ayah. Kita bukan keluarga yang pandai bicara soal perasaan, tapi aku harap Ayah merasakannya lewat tindakanku. Sama seperti aku selalu merasakan cinta Ayah lewat tindakan Ayah.
Aku bangga jadi anak Ayah. Cinta Ayah yang tenang dan sederhana itu bentuk cinta paling tulus yang pernah aku terima. Kalau aku lahir lagi, aku tetap mau jadi anak Ayah. Tanpa ragu.
Terima kasih sudah jadi pelindungku, tempat aku pulang, dan sumber kekuatan paling diam tapi paling nyata dalam hidupku.
Aku sayang Ayah. Selalu.
With all my love, from your first daughter.
Komentar
Posting Komentar