SOTD - Pulang dari Diam
Oleh Ryu
Namanya Sela.
Orang-orang dulu mengenalnya sebagai perempuan yang selalu punya arah. Ia berjalan cepat, berbicara pasti, dan seolah tahu dengan jelas kemana hidup ini akan membawanya. Tapi itu dulu, sebelum semuanya runtuh, sebelum ia tahu bahwa hidup tak selalu memeluk mereka yang berani bermimpi.
Hari ini, Sela duduk sendiri di bangku taman, dengan headphone usang menggantung di telinganya. Lagu Barasuara mengalun pelan, dan entah mengapa, liriknya terasa seperti surat yang pernah ia tulis untuk dirinya sendiri.
"Terbuang dalam waktu, tak bertepi..."
Ia menunduk. Sudah berapa tahun sejak ia meninggalkan kampungnya di pinggir Yogyakarta dan menetap di Jakarta demi mengejar karir sebagai penulis? Ia pikir, selama kata-kata masih menari di kepalanya, maka kesuksesan hanya tinggal menunggu giliran.
Nyatanya, hidup tak menyukai yang terlalu percaya diri.
Tulisannya berkali-kali ditolak. Ia sempat bekerja sebagai penulis lepas, tapi bayarannya sering tak sepadan dengan tenaga dan pikiran. Ia berusaha bertahan, tapi lama-lama kehilangan semangat. Kata-kata yang dulu mengalir lancar kini mampat seperti air yang dibendung oleh kecewa.
Sela tak tahu pasti kapan ia mulai merasa asing dengan dirinya sendiri. Mungkin saat malam-malamnya tak lagi penuh ide, tapi cemas. Atau ketika ia mulai menjauhi sahabat-sahabatnya karena malu belum “jadi apa-apa”.
Ia menoleh ke arah langit yang mulai merah. Angin sore membawa bau yang samar-samar mengingatkannya pada senja di beranda rumah. Di situ, dulu, ibunya selalu menyiapkan teh manis. Dulu, ayahnya sesekali bersenandung lagu lawas sambil menyiram tanaman. Sederhana, tapi hangat.
Kenapa semua itu dulu terasa sempit?
Ia membuka ponsel. Membuka percakapan terakhir dengan adiknya, dua tahun lalu.
“Sela, pulang, yuk. Gak usah nunggu berhasil dulu.”
Waktu itu, ia tak menjawab. Hari ini, pesan itu terasa seperti panggilan.
Dengan tangan bergetar, Sela mengetik pelan.
“Besok aku pulang.”
Ia tidak tahu harus mulai dari mana saat sampai rumah nanti. Ia bahkan belum bisa menyebut dirinya berhasil. Tapi mungkin, seperti kata ibunya dulu, hidup tidak harus selalu diisi pencapaian besar. Kadang, keberanian untuk kembali dan mengakui bahwa kita lelah… itu juga bentuk kemenangan.
Sela menarik napas dalam. Ia belum sepenuhnya sembuh, tapi ia siap pulang.
Kereta ke Yogyakarta berangkat pukul 21.00. Ia akan naik yang itu.
Komentar
Posting Komentar