SOTD - Memimpikan Mimpi
Memimpikan Mimpi
Oleh Zee
Aku pernah berada di titik itu. Titik paling sunyi yang bahkan suara pikiranku pun menggema terlalu keras. Titik di mana satu-satunya yang bisa kupeluk adalah bayangan, dan satu-satunya yang masih bersamaku… hanya kenangan yang tak diundang.
Ada masa ketika aku masih punya mimpi—bukan satu, tapi banyak. Mimpi untuk tertawa bebas di hari Minggu. Mimpi untuk duduk di teras sambil menggoda awan yang lewat. Mimpi menjelajah dunia fantasiku. Mimpi untuk bangun suatu pagi dan tak merasa kosong. Namun sekarang, bahkan aku hanya bisa memimpikan mimpiku.
Bayangkan, begitu dalamnya rasa kehilangan hingga bahkan harapan pun terasa jauh.
Hari ini seperti hari-hari sebelumnya. Aku berjalan seperti biasa, bernapas seperti biasa, tersenyum seperti biasa... tapi semua itu hanya penampilan luarku. Di dalam, ada ruang gelap yang tak tahu bagaimana cara menyala lagi.
Aku mencoba tidur, berharap setidaknya mimpi akan membawaku ke tempat yang menenangkan. Tapi tidur pun menjadi bagian paling menyakitkan dalam hidupku. Karena dalam tidurku, aku memimpikan dunia yang seharusnya menjadi milikku, namun hal itu tidak berpihak padaku. Aku memimpikan mimpiku. Tapi setiap kali bangun, aku kehilangan keduanya: kenyataan dan harapan.
Pagi tadi, aku berdiri cukup lama di depan cermin. “Apa gunanya bertahan kalau semua hal yang kuharapkan sudah tidak mungkin kuraih?” bisikanku sendiri memantul pelan. Tak ada jawaban. Hanya wajahku yang pucat, mata yang kosong, dan rasa sesak yang menolak pergi.
Seseorang pernah berkata padaku, “Kamu kuat, kamu hanya sedang jatuh.” Tapi bagaimana menjelaskan pada mereka bahwa aku bukan sedang jatuh—aku sedang tenggelam, perlahan, diam-diam, di dalam diri sendiri. Dan aku tak tahu bagaimana cara berenang ke permukaan.
Kupikirkan untuk menghilang, bukan karena ingin pergi. Tapi karena aku lelah hidup yang begini. Lelah menjadi beban bagi diriku sendiri dan orang lain. Lelah bangun tanpa alasan. Tapi di sela-sela itu… ada suara kecil yang berbisik lirih, “Tunggu sebentar lagi.”
Pernah, aku ingin berhenti berharap. Karena berharap terlalu menyakitkan.
Tapi anehnya, keputusasaan pun tetap menyisakan ruang kecil bagi kemungkinan.
Dan mungkin… dari situ aku masih bertahan. Bukan karena kuat. Tapi karena tak ada pilihan lain selain terus membuka mata, walau dunia tetap gelap.
Dan hari ini... entah kenapa aku ingin menulis, bukan untuk siapa-siapa. Mungkin hanya agar aku tahu, aku masih bisa merasa. Atau mungkin kamu juga sedang berada di tempat gelapmu sendiri sepertiku.
Kalau begitu... dengarkanlah apa yang aku ucapkan. Tak usah bicara, tak perlu tanya apa-apa.. Aku hanya ingin bilang, "Aku masih di sini." Masih bernapas, meski terasa berat. Masih membuka mata, meski semua pagi terasa menjauh. Masih bertahan, meski hati rasanya seperti reruntuhan yang tak tahu caranya dibangun kembali.
Dan jika suatu hari kamu mendengar seseorang berkata, “Aku memimpikan mimpiku…” Jangan buru-buru mengira itu kalimat indah.
Itu mungkin suara paling lirih dari seseorang yang sedang tenggelam dalam dirinya sendiri — yang hanya ingin didengar, sekali saja… sebelum benar-benar hilang.
Tapi tahu apa yang aneh? Meski sesakit ini, aku masih di sini.
Dan mungkin, itu cukup untuk hari ini. Mungkin… besok akan sedikit lebih terang.
Dan kalau belum, aku akan coba lagi. Pelan-pelan. Sekuat yang aku bisa.
Karena meski aku memimpikan mimpiku, aku selalu ingin percaya — bahwa bertahan pun… adalah bentuk kecil dari harapan.
Komentar
Posting Komentar