SASASTRA - Mailbox, I Hate It
Mailbox, I Hate It
Oleh Ryu
Rachel membenci kotak surat di depan rumahnya.
Dulu, benda itu tidak terlalu penting. Hanya sebuah kotak besi yang tergantung di pagar, dipenuhi brosur promo cuci sofa dan undangan pernikahan dari orang-orang yang bahkan tidak ia kenal. Namun sejak Keenan pergi; tanpa pamit, tanpa sepatah kata pun, dan kotak itu berubah menjadi simbol kehilangan yang menggantung di tenggorokan. Tak bisa ditelan, tetapi juga tak bisa dimuntahkan.
Surat pertama datang seminggu setelah Keenan menghilang. Tanpa nama pengirim, tanpa perangko. Kertas putih, dilipat dua kali, dan tulisan tangan yang sedikit miring ke kanan. Sedikit berantakan, tapi Rachel sangat mengenali tulisan itu.
"Kalau aku bilang aku baik-baik saja, aku sedang berbohong."
Rachel membacanya dalam diam. Tidak menangis, tidak marah. Ia hanya duduk lama di ujung tempat tidur, menggenggam surat itu seakan-akan benda rapuh. Ia tak tahu siapa yang meletakkan surat itu di kotaknya. Tak tahu pula mengapa Keenan memilih menulis, padahal dulu selalu mampu berbicara. Tapi yang pasti, surat itu membuat hatinya retak sekali lagi.
Dan anehnya, surat itu bukan yang terakhir.
Bulan demi bulan, surat-surat datang. Tak rutin. Kadang dua bulan sekali, kadang setengah tahun tanpa kabar. Tapi ketika akhirnya muncul lagi, isinya selalu sama yaitu Keenan dan sisa-sisa keberanian yang hanya bisa dituangkan melalui tulisan.
Cerita tentang pagi di kota yang tidak pernah disebutkan namanya. Tentang lagu yang katanya membuatnya rindu rumah. Tentang secangkir kopi yang rasanya mengingatkannya pada buatan Rachel. Tentang mimpi buruk. Tentang penyesalan.
Rachel membaca semuanya. Dan meski ia enggan mengakuinya; ia menyimpan semuanya. Di dalam kotak sepatu, di bawah tempat tidur.
***
Hari itu langit berwarna abu-abu. Angin berembus pelan, membawa aroma hujan yang belum turun. Rachel baru tiba di rumah ketika matanya langsung menangkap sesuatu di dalam kotak surat.
Sebuah amplop cokelat.
Berbeda dari biasanya. Lebih tebal. Dan ada tulisan tangan di depannya:
Perasaannya seketika campur aduk. Namun ia tetap membuka pagar, masuk ke rumah, duduk di tempat tidur, dan membuka amplop itu perlahan.
***
Rachel,
Aku tidak tahu apakah kamu masih membaca surat-suratku atau tidak. Tapi jika kamu membuka surat ini, berarti aku masih punya sedikit ruang di hidupmu.
Saat ini aku berada di kota ini. Hanya sebentar. Tapi aku ingin berbicara. Benar-benar berbicara. Tanpa surat. Tanpa jeda.
Pukul lima sore ini, aku akan berada di taman dekat danau kecil itu. Bangku lama di bawah pohon besar. Jika kamu datang, aku janji ini surat terakhir yang kamu terima dariku. Karena setelah ini, aku ingin bicara langsung.
Jika kamu tidak datang, aku mengerti.
– Keenan
***
Ia ragu. Tapi kaki dan hatinya lebih jujur daripada pikirannya. Sepuluh menit kemudian, ia sudah berada di luar rumah. Mengenakan jaket tipis. Rambut masih acak-acakan. Tidak membawa apa pun selain keberanian yang telah lama hilang.
Taman itu masih sama. Danau kecilnya tenang, angin sore perlahan meniup dedaunan yang mulai menguning. Bangku kayu itu masih di tempatnya. Dan Keenan duduk di sana.
Sendirian.
Kepalanya tertunduk. Tangannya mengusap lutut. Tidak membuka ponsel. Tidak menulis. Hanya menunggu.
Rachel berhenti beberapa meter dari bangku itu. Diam. Tapi Keenan mendengar langkahnya.
Ia menoleh.
Mata mereka bertemu.
"Rachel," ucapnya pelan. "Kamu datang."
Rachel mengangguk. "Kamu juga."
Keenan berdiri. Gerakannya canggung. Tangannya sedikit gemetar.
"Boleh aku bicara?" tanyanya.
Rachel menghela napas. "Kalau kamu masih menulis surat, aku tidak akan datang."
"Aku tahu," Keenan menunduk. "Itulah sebabnya aku datang sendiri."
"Karena aku membenci surat-suratmu," lanjut Rachel. "Bukan karena isinya... tapi karena kamu terus bersembunyi di balik kertas, padahal yang kutunggu hanya kamu."
Keenan terdiam. Lalu mengangguk perlahan.
"Aku minta maaf. Aku hanya... tidak tahu cara pulang."
Rachel menatap matanya. Jauh di dalam sana masih ada Keenan yang dulu: yang suka mengeluh soal skripsi, yang suka membawakan es teh jam dua pagi, yang tidak pernah mampu berkata 'aku sayang kamu' secara langsung—tapi bisa menuliskannya berkali-kali di atas kertas.
Hujan rintik mulai turun. Tapi Rachel tetap berdiri di sana.
"Sekarang kamu sudah di sini," katanya pelan. "Kita bisa mulai lagi. Tapi tolong... jangan melalui surat lagi."
Keenan mengangguk. Kali ini lebih mantap.
***
Tapi sejak hari itu, tidak pernah ada lagi surat dari Keenan.
Karena ia telah berhenti menulis.
Dan Rachel... akhirnya berhenti menunggu.
Komentar
Posting Komentar