SOTD — Waktu yang Membeku

Waktu yang Membeku 
Oleh Prem

Aku berjalan dengan menggendong tas ranselku. Menggenggam ponsel kesayanganku dan mengenakan pakaian terbaikku. Tak lama aku sampai di suatu tempat yang penuh dengan keramaian. Ada yang berkumpul bersama keluarga, namun ada yang duduk seorang diri. Aku melihat mereka saling bercanda dengan keluarganya, ada yang senyum dengan dirinya sendiri, namun aku juga melihat beberapa orang yang menyimpan rasa sedih di balik mata mereka. Aku juga melihat banyak orang sepertiku, berdiri seorang diri menunggu sesuatu yang akan menjemputnya.

Ya, di sinilah aku sekarang. Di sebuah stasiun kereta yang dipenuhi akan para insan yang akan memulai kehidupan barunya. Kami saling menunggu kereta untuk menjemput kami, menuju suatu tempat indah untuk memulai hidup baru kami.

Aku menarik napas panjang, memandang jauh ke depan. Lalu aku merogoh sakuku dan menemukan selembar kertas yang tertulis namaku dengan keterangan peron nomor 4, waktu keberangkatan pukul 12:27. Aku pun berjalan menuju peron nomor 4, menuju tempat kereta akan menjemputku. Sebenarnya aku sungguh tidak ingat kemana arah tujuan kereta tersebut akan membawaku, yang hanya aku ingat bahwa aku harus ke sini dan menaiki kereta itu.

Lalu kereta tiba. Tanpa suara, tanpa bunyi rem, seperti membawa ketenangan baru bagi para penumpangnya termasuk aku. Hembusan angin menyentuh pipiku saat pintu kereta otomatis terbuka. Lalu para penumpang berdesakan masuk ke dalamnya. Di dalam kereta aku mencari kursiku, gerbong 7 kursi A-7 seperti yang tertera di selembar kertas yang kudapat dari kantongku tadi.

Aku duduk tepat di samping jendela, sehingga saat kereta berjalan aku bisa menyaksikan sebuah lukisan alam yang tiada kiranya. Lama kereta berjalan, pemandangan di luar sana pun silih berganti. Ku lihat pantulan bayangan seorang wanita duduk di sampingku lewat jendela. Saat kutengok, kursi disampingku ini benar-benar kosong. Dan aku baru sadar bahwa dari tadi aku duduk sendiri di barisan ini. Namun masih ada para penumpang yang duduk di kursi depan dan belakangku.

Kereta terus melaju, namun semakin lama waktu berlalu aku semakin sadar bahwa pemandangan yang kulihat diluar sana juga mulai menghilang. Warna-warnanya memudar. Sawah, pepohonan, rumah, bahkan orang-orang yang kulihat melalui jendela kereta juga perlahan lenyap. Aku pun langsung berdiri dan melihat sekelilingku, aku masih melihat orang-orang yang duduk satu gerbong denganku dan mereka masih ada di sana. Namun, entah mengapa kehampaan seperti melilitku. 

Aku lalu mengambil ponselku. Ponselku tak ada sinyal dan jam di layarnya tidak berubah, waktu masih menunjukkan pukul 12:27 sama seperti saat keberangkatan kereta tadi. 

Kereta ini entah sudah berapa lama berjalan, namun setiap kali aku membuka ponselku waktu di sana tidak pernah berubah - 12:27. Aku melihat sekelilingku lagi dan orang-orang masih ada di sana. Aku melihat ke luar jendela, pemandangan indah yang kulihat tadi kini berubah menjadi cahaya putih yang menyilaukan mata, dan perlahan bayangan-bayangan yang seperti aku kenal muncul di sana.

Aku termangu, terus menyaksikan bayangan-bayangan yang muncul dari balik cahaya putih yang menyilaukan tadi. Semua bayangan itu sungguh terasa dekat bagi diriku. Lalu tiba-tiba cahaya putih itu menembus jendela kereta dan menusuk mataku. Kini aku berada di antara cahaya itu, dikelilingi bayangan-bayangan tadi.

Perlahan semua bayangan itu semakin jelas. Ia hadir dalam bentuk wajah-wajah orang yang kukenal. Satu per satu wajah muncul. Wajah orang-orang yang kusayangi. Wajah orang-orang yang pernah kusakiti. Wajah orang-orang yang pernah kulupakan. Wajah orang-orang yang pernah kuabaikan. 

Dadaku semakin sesak. Aku menunduk. Tak bisa berbuat apa-apa. Lalu tiba-tiba pengeras suara di langit-langit kereta menyala, memecah lamunanku, dan mengeluarkan suara untuk pertama kalinya selama perjalanan panjangku di kereta ini.

“Perhentian terakhir Stasiun Pertemuan Jiwa. Harap penumpang bersiap untuk keluar dari kereta dan bersiap untuk mengingat siapa yang pernah ia lupakan… termasuk dirinya sendiri.”

Lalu, cahaya putih tadi hilang sepenuhnya. Aku kembali melihat sekeliling dan jendela kereta lagi. Aku melihat pantulan wajahku di jendela. Tapi bukan pantulan wajahku saat ini, namun pantulan wajahku dulu. Saat aku masih percaya. Saat aku belum menyerah. Setetes air pun keluar dari mataku, bukan karena takut, tapi karena rindu aku yang dulu.

Seketika pintu kereta terbuka. Cahaya matahari menyambutku. Tidak menyilaukanku, tapi hangat, seperti sore hari yang damai. 

Aku melangkah keluar dari kereta. Kulihat sosok berdiri menungguku di seberang sana. Aku mendekatinya, dan di sana berdiri aku yang dulu. Menungguku dengan senyum manisnya.

“Kau lama sekali sampai sini…tapi tidak apa-apa. Kita bisa mulai lagi.”

Dan dari sinilah semuanya dimulai kembali. 



Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu