SOTD - HANSA

HANSA

Oleh Octavia Nur Ramadhani 

Prolog

Seharusnya bunga mendatangkan bahagia bukan lara. Namun entah mengapa setelah perayaan dua tahun itu usai, bunga justru mendatangkan trauma. Disamping nisan bertabur sekar hanya ada tatapan nanar yang tertuju pada ukiran nama sang kekasih. 

“Padahal kamu udah janji bakal ngehabisin waktu ditempat favorit kita. Tapi kamu ngingkarin dan biarin aku pergi sendirian ke sana” 

“Kamu ingat angsa yang sering kita kasih makan itu? Sekarang udah nemuin pasangannya. Dia udah ga sendiri lagi, dia udah bahagia. Kamu juga harus bahagia”

Semilir angin seakan menjadi jeda sesaat sebelum hujan mengguyur deras punggung Hansa. Disertai dengan air mata yang sudah tidak mampu dibendungnya. Untuk kesekian kalinya ia memeluk batu nisan itu, meluapkan segalanya termasuk rasa penyesalan yang tidak bisa ia ungkapan. 

Tentang semua rahasia yang ia pendam. Tentang bagaimana ia mengarang cerita agar Tirta percaya. Kebohongan itu dimaklumi begitu saja karena Tirta sepenuhnya percaya padanya. Bahkan saat Tirta mengetahui bahwa Hansa pernah bermain dibelakangnya, Tirta hanya diam. 

“Maaf”

Entah sudah berapa kali kata itu terucap. Pengakuan tiada arti dan tidak akan bisa mengembalikan semuanya. Hansa tahu itu. 

Meskipun hujan mencoba menyadarkannya, ia tidak peduli. Bahkan ia membiarkan dinginnya hujan menyelimuti tubuhnya yang kini meringkuk dan terhanyut dalam imajinasi serta memori Indah yang masih ia simpan. 


Episode 01-Hilang

Sudah sepekan dan masih sama. Hujan selalu datang dipagi hari, menggeser biru yang hendak menyapa pagi. Kicauan burung yang biasanya terdengar nyaring kini senyap, entah karena mereka malas bersaing dengan hujan atau ada tempat baru yang lebih nyaman. 

Bagaimana bisa orang-orang menjalankan aktivitasnya saat hujan? Padahal diluar sana angin pun bertiup kencang. Aku masih terbaring malas memeluk selimut dengan kantung mata yang ketara jelas. Tembok yang kini ku tatap kosong menjadi saksi monolog ku semalam. Bercerita tentang Tirta yang tidak ada habisnya. Mungkin jika tembok itu bisa berbicara ia akan mengatakan “bosan mendengar ocehanmu”

Lagi-lagi aku mengecek ponselku untuk melihat tanggal. Berharap semua yang terjadi hanyalah mimpi dan ilusi. Sial aku benar-benar gila dibuatnya. 

“Tanggal dua belas desember. Bukankah hari ini cocok untuk menonton film bersama?”

Aku menertawai diri ku sendiri yang masih terjebak dalam duka. Duka yang mengingatkan ku pada wajah yang selalu tersenyum bahkan saat ia sudah terbujur kaku didalam peti. Begitu cantiknya sampai-sampai bunga matahari yang digenggamnya pun merasa iri. 

Sekarang yang tersisa hanyalah kata ‘andai’. Andai malam itu tidak hujan, andai semuanya tidak pernah terjadi. Ingin rasanya mengembalikan waktu hingga sebelum hari itu tiba. 

Saat itu pukul tiga dini hari dibawah remang-remang lampu kamar. Ponsel berdering dengan ganasnya memaksa sang pemilik untuk segera bangun dan mengangkat panggilan itu. Tertera nama si pemanggil ‘Ayah Tirta’. 

“Han, anak ku Tirta menitipkan pesan untuk mu”

Nada yang seperti menahan tangis itu terjeda sejenak. “Kamu harus selalu bahagia”

“Ayah, dimana Tirta? Dimana dia? DIMANA?”

Namun percakapan itu berakhir secara sepihak meninggalkan kegelisahan dan ketakutan. 

Tirta Amaranggana dinyatakan meninggal pukul tiga lebih tujuh menit tepat setelah menyampaikan pesan kepada ayahnya. 


Episode 02-Imaji

Di tengah telaga dua angsa sedang bercerita perihal sepi. Masa lalu yang mereka kisahkan hingga mempertemukan mereka di tempat penuh kanigara serta hijau yang terbentang luas. Beruntung bisa mengenal mu seperti itulah akhir dari percakapan mereka. 

Bangku panjang yang kini ku duduki mengingatkan ku pada Tirta yang sedang mengamati bunga matahari yang terjejer rapi di samping bangku. Terkadang ia menyingkirkan serangga yang berusaha merusak keindahan bunga itu. Jika sekiranya bunga itu mulai layu, ia akan mencabutnya dan menaman benih yang baru. 

Setelah itu ia akan membagikan cerita tentang semua yang ia alami pada hari itu. Mulai dari pekerjaannya sebagai detektif yang begitu menguras pikirannya, sampai merekomendasikan ku makanan manis yang baru saja ia coba. Dia akan berbicara tanpa jeda dan penuh antusias. Aku hanya memandangi dan tersenyum karena ekspresinya yang menurutku sangat menggemaskan. 

“Kalo aku cerita tuh di dengerin. Bukannya malah senyum-senyum ga jelas gini. Kebiasaan” ia memukul pelan lengan ku dengan wajah cemberut andalannya. Lalu ia akan berpura-pura marah. 

Begitu lucunya dia. Sampai-sampai kenangan itu aku abadikan dalam sajak ku ‘Tentang Tirta’ yang sebagian besar memuat keelokan Tirta. Tiada habisnya ide itu muncul dalam benakku. Ada satu kalimat yang masih menjadi favorit ku hingga sekarang. 

“Hai Tirta, mari buat kenangan bersama”

Dibawahnya tertera tanggal 21 Mei. Dimana pada saat itu aku dan dia sedang berada di pantai menikmati liburan. 

Dia berdiri seolah menantang gelombang air diiringi sayup-sayup suara angin bertiup menerpa daun pohon kelapa serta cemara saling bergesekan satu arah. 

Tirta berlari menyusul gelombang yang kembali ke asalnya. Mengejar kepiting abu-abu yang semulanya tertutup air kini terlihat sedang menghindari daratan dan manusia. “Aku dapat satu!” teriaknya bangga atas hasil yang dia dapat. 

Aku sekedar mengamatinya, membiarkan gadis itu bersenang-senang dengan caranya sendiri. “Lihat ini, bukankah dia menggemaskan?” matanya berbinar saat memperhatikan hewan ditangannya. Aku mengangguk, lalu dengan cepat menggeleng untuk merubah respon ku. 

“Dibanding dia, Tirta lebih lucu” 

Aku mengingat jelas rona di pipinya. Lantas ia menunduk karena malu. Lagi-lagi aku tertawa. Betapa sulitnya mengikhlaskan semua tentang dia. Bahkan aku masih merasakan kehadiran Tirta di sampingku. 


Episode 03-Mimpi

Mimpi semalam terasa begitu nyata. Diantara lautan kanigara disertai hujan yang tak kunjung reda seorang gadis dengan rambut sebahu bersenandung sembari mencabut bunga kuning itu dari tanah. Senandung yang terdengar kelam seolah ada hal menyakitkan yang tidak bisa ia sampaikan. 

Punggung itu itu terasa familiar. Punggung tak pernah bersender kala ia merasa lelah. Entah sejak kapan aku sudah berada di belakangnya, mungkin sejak lantunan itu menusuk indera ku. 

“Tirta, apakah itu kamu?”

Gadis itu berbalik. Benar dia adalah Tirta. Aku mencoba untuk memeluknya namun ia terus melangkah mundur. Akhirnya aku hanya terdiam berusaha membendung air mata yang akan jatuh dan segera menyaingi hujan. 

“Iya. Ini aku”

Ia tersenyum seperti biasanya. Namun rasanya berbeda. “Han, tolong lupain aku. Kamu harus bisa bahagia tanpa aku”

Tubuhku benar-benar membeku. Aku tidak bisa menggerakkan tangan ku, bahkan mulut ku seakan enggan berucap. Hanya air mata yang bisa menjawabnya. 

“Pelan-pelan kamu pasti bisa” bayangan Tirta sekarang nampak kabur entah mata ku yang berlinang air atau memang Tirta yang ingin mengakhiri perpisahan ini. Tangannya melambai memberi isyarat bahwa ia akan segera pergi. Dan benar saja setelah lambaian itu ia menghilang diantara kabut dan hujan. Jejaknya pun tak berbekas seolah lenyap terbawa angin. 

“Terimakasih dan selamat tinggal”

Aku ingin mengucapkan kalimat itu tapi alarm terus saja memintaku untuk bangun. Aku masih sedikit kaget tidak percaya. Namun aku yakin jika aku melepaskan Tirta, ia pasti akan bahagia di sana. 

Dan tidak seperti biasanya biru menghiasi bumantara. 


Epilog

Hansa menghela napas panjang saat menatap batu berukiran nama Tirta. Terlalu sulit untuk membendung air mata bahkan dengan hanya membaca nama diukiran itu. Oke. Tidak apa menangis sekarang luapkan semuanya disini. Tangannya yang sedang membawa setangkai bunga matahari itu kini gemetar. Ingin melepaskan namun tali yang menjeratnya begitu sukar dia potong. 

“Aku kembali lagi, Tirta. Aku kira aku enggak bisa lupain kamu dan terus berada dalam imajinasi ku. Aku kira kamu enggak akan melepaskan ku. Maaf karena aku belum ikhlas karena kepergian mu”

“Tapi sekarang aku janji enggak bakal sedih lagi. Aku janji bakal buat kamu bahagia disana. Makasih buat semuanya. Aku enggak akan sering datang kesini lagi”

“Sekarang kamu bisa tenang“

Kanigara itu ia letakkan di tengah-tengah batu nisan. Lalu ia melenggang pergi meninggalkan kesedihan juga penderitaan. 

Jadi benar ikhlas itu memang berat jika dilakukan namun, pada akhirnya dari ikhlas itulah secercah cahaya pun mulai timbul dari balik kabut asalkan benar-benar ada niat didalamnya. 

“Terimakasih Tirta”


Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

Hunting Foto Bersama Forum MPI Kopma UNY di Kampung Ramadhan Wedomartani