SOTD - Tanpa Janji, Hanya Kenangan
Tanpa Janji, Hanya Kenangan
Oleh RinoS
Langit sore memerah di ujung desa. Sang surya telah kembali ke tempat beristirahatnya. Huda berdiri di halaman masjid, baru saja selesai salat asar. Langkahnya ringan seperti biasa, tapi hari ini ada yang berbeda. Di bangku taman masjid, duduk seseorang dengan wajah yang tak asing: Rakha.
Teman masa kecil Huda. Yang dulu selalu menunggunya dan menghampirinya di depan rumah untuk bermain bersama bahkan mengaji bersama. Yang pernah mengajarinya menaiki sepeda hingga jatuh berkali-kali. Yang menjadi teman mengerjakan PR, sekaligus menjadi lawan bermain kejar-kejaran.
Dulu mereka berdua memiliki dunia tersendiri. Dunia fantasi yang menyelimuti setiap detik hidup mereka. Dunia yang hanya mereka sang pemimpinnya. Dunia yang tidak pernah menganggap salah dalam setiap tingkah mereka.
Namun, waktu terus berjalan. Dunia mereka hanya bertahan semasa SD. Masa-masa SMP hingga SMA memisahkan mereka. Kini, Rakha duduk di bangku kuliah di luar kota, sementara Huda bekerja. Kontak antar mereka menghilang seperti kabut pagi. Dan kini, tiba-tiba Rakha kembali, duduk di masjid yang pernah jadi saksi tawa mereka.
“Rakha?” sapa Huda pelan.
Rakha menoleh. Senyumnya sedikit ragu, tapi hangat. “Huda... Apa kabar?”
“Baik. Kamu?”
“Baik juga,” jawab Rakha.
Mereka duduk bersebelahan. Tak seakrab dulu, tapi obrolan terucap dari kedua mulut mereka.
“Kamu masih suka duduk di sini?” tanya Rakha.
“Kadang. Kalau lagi ingin sendiri.”
“Dulu, kita setiap sore di sini,” ujar Rakha sembari menatap langit.
“Aku masih ingat, kamu pernah bilang langit itu seperti lukisan Sang Pencipta.” ucap Huda.
“Dan kamu bilang awan itu seperti kapas yang terbang,” sahut Rakha sambil tersenyum tipis.
Huda ikut tersenyum. “Kamu datang ke sini, itu sudah luar biasa banget Rak!”
Rakha tak menjawab. Pandangannya kosong menatap halaman masjid. Huda menunduk. Hatinya hangat tapi juga perih. Kesunyian menyelimuti mereka. Mereka terdiam. Angin sore berembus pelan. Dedaunan pun berguguran.
Huda berdiri, menepuk celana Rakha dengan lembut.
“Makasih ya. Kita memang tidak seperti dulu lagi, Rak. Kita sekarang orang yang berbeda, dan itu tidak apa-apa.”
Rakha menatapnya. “Kadang aku berharap waktu bisa berhenti saat kita masih anak-anak.”
“Aku juga. Tapi hidup bukan cerita dongeng kita dulu,” balas Huda sambil tersenyum.
Rakha berdiri juga. Ia menatap masjid sejenak, lalu kembali menatap Huda.
Huda pun menyalami Rakha dan berkata, “Kalau suatu saat kamu butuh tempat pulang, kamu tahu harus ke mana.”
Rakha hanya mengangguk.
Mereka berpisah di gerbang masjid. Tak ada janji, tak ada pelukan. Hanya satu senyum kecil. Tanpa janji, hanya kenangan yang mereka bawa pulang masing-masing.
Mereka tahu, persahabatan mereka tak akan kembali seperti dulu. Tapi kenangan tetap tinggal di hati mereka. Dan itu sudah cukup.
Terkadang, sahabat masa kecil hanya hadir untuk jadi bagian dari masa lalu. Mereka tak kembali untuk mengulang, tapi untuk diingat. Dan masa lalu itu bukan untuk dibawa kembali, tapi untuk dikenang—sebagai bagian dari siapa kita hari ini.
Komentar
Posting Komentar