SOTD - One The Drive Home

On The Drive Home

by ryu 


We’re in our 7 years together. Semua kita lalui bersama-sama, dari pertama kali membayar pajak mobil, mengurus asuransi, memperpanjang paspor, dan datang ke acara pernikahan teman kantor. We both growing up together, i love those words. I love the fact that me and Alma were together since both in high school. Tapi tahun-tahun yang akan datang, tidak ada lagi perayaan spesial yang bisa kita lakukan. Atau mungkin Alma merayakannya, dengan cara yang berbeda dan rahasia. I will finish the story and the dreams we made because Alma couldn’t do it even if she wanted to.

***

Langit senja meredup, jalanan berpendar oleh lampu-lampu kota yang mulai menyala satu per satu. Awan tipis menggelayut di langit, menyisakan semburat jingga yang perlahan memudar. Mobilnya melaju pelan di jalanan yang lengang, hanya diiringi suara radio yang samar-samar terdengar.

Di bangku penumpang, tidak ada siapa-siapa. Dulu, Alma selalu duduk di sana. Menikmati perjalanan pulang bersama, mengobrol tentang hal-hal kecil yang terasa begitu penting. Sekarang, hanya ada tas dan jaket yang tergeletak begitu saja, tanpa kehidupan, tanpa suara.

Hening yang menemani bukan lagi ketenangan, melainkan kekosongan yang menyesakkan. Kepergian itu tidak terjadi dalam sekejap — tidak ada kata perpisahan dramatis, tidak ada tangisan di bawah hujan, hanya keheningan yang perlahan merayapi hari-hari mereka. Jarak yang awalnya hanya sejengkal, kini terasa seperti lautan luas yang sulit diseberangi.

Dulu, Alma selalu mengisi perjalanan mereka dengan cerita. Ia berbicara tentang impiannya, tentang hal-hal kecil yang ditemuinya sepanjang hari, tentang lagu-lagu yang menurutnya menggambarkan mereka berdua. Sekarang, hanya suara radio yang berusaha mengisi kehampaan itu, tapi tidak ada suara yang bisa menggantikan kehadirannya.

Mereka dulu tidak pernah kehabisan kata-kata. Percakapan mengalir begitu alami, tawa mereka bersahutan di dalam mobil ini. Namun, lambat laun, kebersamaan mereka berubah. Pertengkaran kecil mulai muncul, hal-hal sepele yang dulunya dianggap lucu kini menjadi pemicu perdebatan. Ada malam-malam yang dihabiskan dalam diam, masing-masing tenggelam dalam pikiran sendiri, bertanya-tanya sejak kapan jarak mulai tumbuh di antara mereka.

“Kita nggak kayak dulu lagi,” kata Alma suatu malam, suaranya bergetar.

Ia hanya terdiam, menatap jalanan di depannya. Ia ingin berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ini hanya fase, bahwa mereka hanya butuh waktu. Tapi kenyataannya, mereka sudah saling kehilangan sejak lama, hanya saja belum ada yang mau mengakuinya.

Semua dimulai dari percakapan yang semakin jarang, pesan yang dibalas dengan jeda panjang, tawa yang tak lagi lepas seperti dulu. Mereka masih ada di tempat yang sama, tetapi hati mereka perlahan beringsut menjauh. Bukan karena ingin, tetapi karena keadaan yang merenggut tanpa disadari.

Lampu merah di persimpangan membuatnya berhenti. Ia menatap bayangannya sendiri di kaca spion, lalu menghela napas panjang. Rasanya baru kemarin mereka tertawa bersama di dalam mobil ini, berbicara tentang impian-impian yang seolah takkan berubah. Tapi nyatanya, waktu memiliki cara sendiri untuk mengikis kebersamaan.

Namun, tidak hanya waktu yang mengambilnya. Penyakit itu datang diam-diam, tanpa peringatan. Awalnya hanya kelelahan biasa, batuk yang tak kunjung reda, dan tubuh yang semakin lemah. Alma menganggap itu hal sepele, tapi perlahan, napasnya mulai terasa berat, dan senyumnya yang dulu selalu cerah mulai meredup. Ia masih ingat hari ketika dokter memberi tahu mereka bahwa waktunya tak lama lagi.

Ia menggenggam tangan Alma di ruang perawatan, mencoba menahan air mata yang terus menggenang. “Aku nggak bisa tanpamu,” bisiknya. Tapi Alma hanya tersenyum lemah, mengusap tangannya dengan lembut. “Kamu harus bisa. Janji ya? Kamu harus terus hidup… untuk kita.”

Hari-hari berikutnya adalah perlombaan melawan waktu. Setiap detik terasa begitu berharga. Ia menemaninya sepanjang malam, mendengarkan suara napasnya yang semakin lemah, membaca buku favoritnya, memutarkan lagu-lagu yang dulu mereka dengarkan di perjalanan pulang. Hingga akhirnya, pada suatu pagi yang dingin, Alma mengembuskan napas terakhirnya dalam tenang. Pergi dengan senyuman yang masih tergambar di wajahnya.

Kini, perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari sebelumnya. Hanya ada suara napasnya sendiri yang mengisi kabin mobil. Ada bagian dari hatinya yang masih tertinggal di masa lalu, tersimpan dalam kenangan yang tak bisa dihapus. Tapi ia tahu, tidak semua hal bisa dipertahankan. Dan terkadang, satu-satunya yang bisa dilakukan hanyalah terus berjalan, meski hati masih terasa kosong.

Namun, ia tidak ingin membiarkan semua impian yang dulu mereka bangun bersama menghilang begitu saja. Alma tidak pernah ingin dirinya terjebak dalam kesedihan.

Bertahun-tahun setelah kepergiannya, ia mulai menemukan makna baru dalam hidupnya. Ia kembali melakukan hal-hal yang dulu mereka sukai bersama. Ia berusaha tersenyum, tertawa, menjalani hari-harinya dengan cara yang Alma inginkan — bukan dengan kesedihan, tetapi dengan mengenang kebahagiaan yang pernah mereka bagi.

Dan di setiap perjalanan pulangnya, ia tidak lagi merasa sendirian. Sebab, dalam setiap kenangan, dalam setiap langkah yang ia ambil, Alma selalu ada.

Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu