SASASTRA - Kantong Misterius

 Kantong Misterius

By Rino Satriyadi


Kicauan merdu ayam bersahutan, membelah keheningan pagi dan perlahan menggugah Salman dari lelapnya. Cahaya mentari menembus jendela kamar, mengharuskan Salman membuka matanya. Salman beranjak bangun dari tempat tidurnya, membersihkan diri, dan bergegas mengenakan seragam putih abu-abu, seragam yang selalu menjadi penyemangat dalam hidupnya. 

Salman, remaja 17 tahun, tumbuh dalam kesederhanaan bersama ibunya di sebuah rumah kecil yang penuh kehangatan. Ayahnya telah pergi ke sisi-Nya saat Salman berusia 5 tahun. Ibunya, Bu Sari namanya, ialah seorang buruh yang tak kenal lelah, menjalani hari-hari dengan pekerjaan yang silih berganti. Apa pun yang halal, ia jalani demi memastikan anak semata wayangnya tetap bisa bersekolah dan bermimpi. 

Jam menunjukkan pukul 06.10, saat untuk Salman berangkat ke sekolah. Ia mengayuh sepeda dengan penuh semangat ke sekolah tercintanya. Jarak 5 km dari rumah ke sekolah, menghabiskan 20 menit perjalanan yang harus Salman tempuh. Sepanjang jalan ia selalu tersenyum dan menyapa setiap orang yang ia jumpai. Setibanya di sekolah, rasa bangga memenuhi hatinya. Ia merasa beruntung bisa belajar di sekolah terbaik di kotanya. Hanya siswa-siswa berprestasi yang diterima di sekolah itu, Salman salah satunya. 

“Eh, Salman, masih betah di pojokan? Kursi depan tuh buat orang-orang tajir kayak kita!" Adit tertawa sinis. 

“Hahahaha.” tawa teman-teman sekelas lainnya. Salman sudah biasa di ejek teman-temannya karena berasal dari keluarga kalangan rendah. Namun, itu tidak mengurangi semangat Salman untuk terus menimba ilmu dan justru memotivasinya untuk menjadi lebih baik.

Beberapa menit kemudian, Pak Zaki guru Kimia memasuki kelas, mengucapkan salam, dan membagikan soal penilaian harian Kimia. Para siswa segera duduk dengan rapi dan mempersiapkan diri untuk mengerjakannya. Saat mengerjakan, banyak siswa tampak kebingungan, sementara Salman tetap tenang dan percaya diri mengerjakan soal. Hingga tak terasa waktu habis dan semua siswa mengumpulkan pekerjaanya. Beberapa saat setelah Pak Zaki mengoreksi pekerjaan siswa, ia mengumumkan hasilnya. Salman menjadi siswa dengan nilai terbaik pada penilaian harian Kimia tersebut, namun teman-teman sekelasnya justru iri dan menuduh Salman telah melakukan kecurangan. 

Kegiatan demi kegiatan di kelas berlalu pada hari itu, hingga tiba waktunya pulang sekolah. Sebelum pulang, Salman menyempatkan membeli 2 buah roti di seberang sekolah untuk dibawa pulang dan dimakan bersama ibunya. Saat itu juga ia melihat seorang pengemis perempuan tua yang tidak bisa menyeberang jalan. Pengemis tersebut meminta bantuan Adit dan teman-teman Salman lainnya, namun tidak satupun yang menolongnya. Salman pun segera membantu pengemis tua tersebut. Tidak hanya membantu menyeberangkan namun juga memberi sedikit uang untuk pengemis tua itu. 

“Terima kasih telah membantu saya, Nak.” ucap pengemis tua. 

“Terima kasih kembali, Nek.” jawab Salman disertai senyum manisnya. Sebagai imbalannya, pengemis tua memberikan sebuah kantong kecil lusuh kepada Salman. Dengan senang hati Salman menerimanya, lalu bergegas pulang dan mengucapkan salam kepada pengemis tua tersebut.

Sesampainya di rumah, Salman mengucapkan salam dan mencium tangan ibunya. Ia memberikan roti yang dibelinya kepada ibunya dan memakannya bersama-sama. Hari itu mereka hanya makan roti karena tidak memiliki makanan lain untuk dimakan. Di sela-sela menikmati roti tersebut, Salman teringat bahwa ia diberi sebuah kantong misterius oleh pengemis tua. Ia mengambilnya dan menjelaskan kepada Bu Sari perihal kantong itu. Lalu dengan hati-hati mereka berdua membukanya. 

Kilauan cahaya muncul dari dalam kantong, bukan sekadar pantulan biasa, melainkan semburat sinar yang menyilaukan mata mereka. Apa yang tersembunyi di dalamnya? Pikiran salman tak karuan, dipenuhi pertanyaan tanpa jawaban. Jemari Salman gemetar saat mendekatinya, ragu namun ingin menyentuhnya. Ketegangan tergambar jelas di matanya. Kantong yang lusuh itu kini menyimpan misteri yang tak terduga. Jantung Salman berdetak lebih cepat dari biasanya. Udara di sekitarnya terasa menjadi lebih berat. Salman tidak tahu bahwa apa yang ada di dalam kantong lusuh itu bukan sekedar benda biasa, melainkan sesuatu yang akan mengubah takdirnya selamanya.

Napas tertahan, ketegangan memuncak, keringat mengucur di sekujur tubuhnya, Salman akhirnya mengambil benda misterius di dalam kantong itu. Begitu jari-jarinya menyentuhnya, sensasi aneh menjalar ke seluruh tubuh Salman. Ia menarik kembali jemarinya dari dalam kantong. Terbelalak matanya melihat benda yang ada di genggamannya. Segenggam kemilau emas kini telah berada di tangannya. Dengan gemetar, ia menyerahkan emas itu kepada ibunya. Mereka berdua menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Mereka berdua tak henti-hentinya bersyukur.

“Nak, inilah rezeki dari Sang Pencipta.” suaranya bergetar.

Hari demi hari berlalu, mereka memutuskan menjual sebagian emas itu. Uang hasil penjualan, Salman belikan rumah dan sisanya diberikan kepada Ibunya. Bu Sari mencium kening anaknya itu, tak terasa segelintir air mata menetes dari kedua mata mereka. Kehidupan mereka pun kian membaik dan terus berlanjut. 

Sepuluh tahun berlalu.... 

Kini, Salman menjadi sosok yang sukses, dermawan, dan menginspirasi banyak orang. Bukan hanya kekayaan yang ia dapatkan, namun kebahagiaan karena bisa membantu orang-orang yang bernasib sama seperti dirinya dahulu. Salman mendirikan tempat untuk anak-anak kurang mampu agar dapat menimba ilmu, memastikan mereka bisa meraih mimpi setinggi-tingginya. Di balik semua hal itu, ia teringat malaikat dalam hidupnya, Ibunya. Ibunya yang sekarang berada di sisi-Nya.

“Bu, sekarang aku sudah mencapai apa yang ibu dan aku impian dahulu.” ucap Salman.

Angin sepoi-sepoi menggugurkan daun-daun kering dari rantingnya, sementara rintik air hujan yang jatuh perlahan menyamarkan tetesan air mata yang mengalir dari kedua mata Salman. Salman tersenyum, menatap langit di atasnya, ia tahu bahwa di suatu tempat di atas sana, ibunya pasti bangga melihat anaknya itu.



Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu