SASASTRA - Hilangnya Cahaya

Hilangnya Cahaya


Oleh Rino Satriyadi 


Sunyi, kelam, dan semburat kegelapan menyelimuti tiap nafas insan di sebuah kota terpencil kala itu. Setitik cahaya bahkan tidak tampak menyinari setiap sudut gang-gang sempit di sana. Tumbuh-tumbuhan tampak tertidur pulas, begitu juga kawanan para binatang tak menampakkan dirinya. Terlihat seorang pemuda yang sedang duduk dengan lusuh di sebuah kursi tua di teras rumah, Ranveer namanya. Ia mencari sesuatu yang telah lama hilang, cahaya. 

"Duaaar...” 

Seketika suara petir menyambar, menghanyutkan lamunan Ranveer. Seketika itu juga ia bangun dari kursinya, memandang ke langit, memastikan semua keadaan baik-baik saja. Lalu bergegas masuk ke dalam rumah, memeluk erat keluarganya. 

"Mah... Pah... Aku takut..." suara gemetar Ranveer keluar dari mulutnya. 

Sunyi, tidak ada satu pun jawaban.

"Kak... Dik… Aku takut di sini..." gemetar Ranveer semakin menjadi.

Hampa. Keluarganya tetap membisu. Menyisakan gemuruh petir dan tumpahan air hujan di luar sana. Ranveer semakin ketakutan dan mendekap erat-erat keluarganya, tanpa ada satu pun yang menanggapi dirinya. Sekian lama ia nyaman di pelukan mereka, hingga gemuruh petir menghilang. Namun, seiring hujan mereda, kenyataan mencengkeram dirinya, tak ada seorang pun di dalam rumah itu selain dirinya sendiri. Ranveer sadar bahwa semua keluarganya telah pergi entah kemana. Setiap hari Ranveer mencari keluarganya di seluruh penjuru kota, namun tak pernah memunculkan hasil. Tua muda di kotanya ia tanyai perihal keluarganya, namun seakan mereka semua membisu.

Hari demi hari berlalu dan Ranveer tetap dalam pencariannya. Namun, waktu demi waktu pun hilang begitu saja. Ranveer semakin kebingungan, ia kini merasa tidak hanya keluarganya yang hilang, melainkan dirinya juga. Kota tempat Ranveer tinggal juga semakin hari semakin gelap. Tidak tampak secercah cahaya yang muncul di sana. Begitu juga setiap orang di sana menatap Ranveer dengan kosong, seolah mereka tidak mendengar dan memahami setiap perkataan yang Ranveer ucapkan.

Di tengah sunyinya suasana kota, di saat langkah-langkah kaki Ranveer serasa tidak berarti. Saat itu juga terdengar suara yang menghanyutkan lamunan Ranveer.

"Pyaar...." 

Suara pecahan kaca terdengar dari sebuah gubuk tua tepat di depan Ranveer. Merinding diri Ranveer dibuatnya, Ranveer menoleh. Orang-orang yang tadi ia jumpai perlahan menghilang, memasuki rumah masing-masing. Ia bimbang. Tak ada gunanya bertanya kepada mereka yang selama ini membisu.

"Masuklah...." 

Terdengar suara misterius dari gubuk tua. Ranveer menelan ludah. 

Tiba-tiba sebuah ranting jatuh di belakang Ranveer berdiri. Kaget diri Ranveer dan dengan segera ia berlari meninggalkan tempat itu menuju rumahnya. Namun beberapa langkah ia berlari, ia teringat suara pecahan kaca dan suara misterius yang muncul tadi. Dengan hati ragu, ia berbalik dan mendekati gubuk tua itu. Sunyi kembali menyelimuti Ranveer saat sudah berdiri tepat di depan gubuk tua tersebut. Ia memandang sekitar, kini tidak ada seorang pun di luar sana. Hingga hujan tiba-tiba mengguyur dan tanpa disadari Ranveer berlari memasuki gubuk tua itu.

"Aw..." jerit Ranveer.

Tanpa disengaja dirinya menginjak pecahan kaca. Ia menunduk, melihat serpihan kaca yang tersebar seakan menunjukkan arah. Mengikuti jejak itu, ia tiba di sebuah ruang gelap penuh debu dan dipenuhi barang-barang tua yang sudah usang. Tepat di samping kanannya, berdiri sebuah kotak besar pipih yang ditutupi oleh sebuah kain. Ranveer segera membuka kain itu dan ia menemukan sebuah cermin tua yang memiliki retakan di samping kanan kirinya. Kaca cermin dipenuhi debu sehingga pantulan wajah Ranveer tidak terlihat. Ia pun membersihkan cermin dengan kain penutup tadi. Seketika itu juga, sesuatu terjadi.

Muncul sebuah cahaya dari cermin, perlahan pantulan tubuh Ranveer terlihat di cermin. Namun anehnya tidak hanya dirinya yang muncul di sana, perlahan pula pantulan bayang-bayang keluarganya juga muncul. Pantulan ayah, ibu, kakak, dan adik Ranveer muncul perlahan, mereka tampak tersenyum kepada Ranveer. Ranveer terdiam, seakan membeku. Kemudian, suara-suara lembut bergema dari dalam kaca.

“Ranveer sayang, bagaimana kabarmu Nak?” suara lembut ibunya terdengar. 

Ranveer terisak, tangannya gemetar menyentuh cermin tersebut.

“Nak, kau tidak pernah sendirian. Kami selalu bersamamu di setiap langkahmu.” suara ayahnya menyusul.

“Ranveer, hidupmu tidak berhenti di sini. Kau masih punya masa depan yang harus kau perjuangkan. Jangan biarkan dirimu terasing.” kata kakaknya.

“Kakak harus bahagia ya!” suara kecil adik Ranveer pun terdengar.

“Nak, ingatlah bahwa kami tidak pernah meninggalkan kamu, kami selalu di sini, di hatimu.” suara ibunya mengakhiri.

Ranveer terisak, tak bisa berkata apa-apa. Belum sempat ia berucap, secepat itu juga pantulan bayangan keluarganya hilang dari cermin. Ranveer menggeleng, air matanya jatuh. Ia teringat wajah-wajah yang barusan muncul dari cermin. Kini hanya tersisa sosok dirinya di cermin tersebut. Saat itu juga ia menyadari bahwa keluarganya tidak hilang, mereka selalu ada di dalam dirinya, dalam lubuk hati yang paling dalam, dalam kasih sayang yang tak pernah padam.

Sejak malam petir mengguncang kota, Ranveer terjebak dalam kesendiriannya. Kegelapan menyelimutinya, menyesakkan dada, membuatnya percaya bahwa cahaya telah lenyap selamanya. Membuatnya merasa kehilangan cahaya. Namun, kini ia mengerti bahwa cahaya itu tak pernah benar-benar hilang, hanya terselubung bayang-bayang keraguan dan kesedihan yang ia ciptakan sendiri. Ia hanya perlu menemukannya kembali.

Dengan hati yang lebih ringan, Ranveer melangkah keluar dari gubuk tua. Kota yang selama ini tampak gelap perlahan memunculkan cahayanya. Bukan karena gemerlap lampu atau bintang-bintang, tetapi dari terang cahaya yang akhirnya ia nyalakan kembali dalam dirinya sendiri.


Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu