SASASTRA - Negeri Impian
Negeri Impian
Di sebuah negeri yang gemar menyulam angan-angan, seorang perempuan muda berdiri di depan pintu rumahnya. Tetangganya, para perempuan tua, menyaksikan dengan cemas sambil menggenggam benang-benang harapan yang mereka tenun sepanjang hidup. “Mau ke mana kau?” tanya seorang dengan suara penuh curiga. “Mengejar impian,” jawab si perempuan muda. Jawaban itu membuat wajah-wajah yang menua berkerut. “Impian? Apa itu berguna? Lebih baik kau tinggal dan belajar menenun seperti kami. Impian hanyalah kain-kain tipis yang tak bisa menghangatkan.”
Perempuan muda itu hanya tersenyum. Ia tahu, impian bagi mereka hanyalah mitos yang digarami waktu. Mereka tak tahu bahwa benang harapan yang mereka tenun seumur hidup ternyata hanyalah jerat-jerat halus yang mengekang mereka sendiri. Setiap hari, mereka berdoa agar benang itu kuat, agar kehidupan mereka tak hancur berantakan. Tetapi perempuan muda ini berbeda. Ia tak mau sekadar menenun harapan. Ia ingin menenun kenyataan, meski dengan benang yang tipis dan mudah putus.
Dengan langkah ringan, ia pun pergi, meninggalkan mereka yang masih merajut angan di dalam bayang-bayang ketakutan. Di luar, ia menemukan bahwa impian itu bukanlah angan-angan kosong, melainkan sayap-sayap yang menuntunnya terbang, bebas dari bingkai kebiasaan yang membelenggu. Kini, ia bebas memilih benang untuk menenun mimpinya sendiri, tanpa harus takut akan dingin atau rapuhnya kain itu. Dan di balik senyumannya, ia sadar bahwa perempuan tak perlu lagi menunggu izin untuk bermimpi, apalagi dari benang-benang yang sudah terlalu lama kusut.
by. say the name, seventeen imnida!
Komentar
Posting Komentar