SASASTRA - Cerpen
Gelapnya malam dan dinginnya udara
merembes ke sekat-sekat jendela rumah. Astri
seorang anak kecil lugu yang memiliki mata penuh keceriaan terlihat
sedih malam ini. Mendengar suara
ledakan keras dibalik kamarnya. 'Ayah, ayah….' teriaknya. Suara terdengar semakin keras meletup-letup. Di
balik kaca jendelanya ia melihat orang-orang
berlarian ke pinggir bendungan. Memandangi cahaya letupan indah dari
kejauhan, cantik layaknya kembang
api tahun baru yang terus menyala. Orang-orang memeluk keluarganya, seraya berkata 'indah sekali'. Semua yang
orang tahu hanyalah keindahan dari letupan itu
yang jauh dari pemukiman.
Suara sorai sorak dari warga, memanggil tetangganya. Kita pikir ini bukan apa-apa, tidak ada
himbauan, tidak ada peringatan. Hanya keheningan. Mereka kembali tidur, tenang, damai. Dari kejauhan tersebut, di pusat
ledakan juga tenang. Diam-diam memerah dan melepuh.
Hancur lebur dan perlahan menghilang. Nuklir, itu ledakannya. Radiasi yang begitu
kuat menembus kulit,
menembus organ, dan merenggut nyawa-nyawa.
Astri menunggu sang ayah pulang. Ia
menunggu melihat letupan itu bersama ayahnya.
Namun, tak nampak.
Semua kembali tidur dan beraktivitas normal keesokan harinya.
Suara canda tawa warga masih terdengar. Batuk-batuk. Tiada himbauan, tiada evakuasi, perlahan
terserang radiasi yang tak kasat mata. Ambulan datang menuju lokasi
menyelamatkan para pekerja, membuang
baju-baju seragam pekerja
yang sangat berbahaya
radiasinya itu. Rumah sakit penuh. Masih tak ada kejelasan. Apa gerangan yang terjadi?
'Ayah janji ayah mau mengajakku
naik bianglala di kota besok' gadis kecil ini masih mengharapkan datangnya ayahnya. Tiada lagi ayah datang.
Terjebak, terbungkus, dan tertusuk
radiasi nuklir. Negara ini hanyalah negara yang peduli pada citra baiknya,
tiada pengakuan dari kecelakaan yang
suaranya menggelegar ke 1000 km jauhnya. Tiada
evakuasi. Rakyat ini berkegiatan di air, udara,
dan tanah yang tercemar. Perlahan
menusuk organ, hingga
menjadi kanker.
Perlahan memerah, meruam, dan
kesulitan bernafas. Benda tak kasat mata itu sungguh lebih berbahaya daripada nampak wujudnya. Suara sirine datang,
menyelamatkan kita. TELAT! semua
telah mati! mana kehidupan negara
yang sayang rakyat!
Mereka yang masih
selamat ke rumah sakit yang penuh dan sesak. Rumah sakit yang bahkan
temboknyaa sajaa tercemar. Bagaimana
mungkin rakyat ini selamat? Astri, gadis kecil ini menangis melihat
kulit-kulit kulit merahnya
melepuh dan perlahan
matanya pun terpejam.
Tiada
kehidupan, semua sudah pergi. Menjadi kota mati, mati, dan selamanya tak ada kehidupan. Kota itu, kota yang penuh tawa,
kini sepi. Binatang pun enggan mendekat. Binatang pun menangis. Seratus
tahun lamanya kota ini, kota ledakan hanya akan dikenang
karena matinya. Hanya akan ditahu dalam buku-buku sejarah sebagai bukti
ambisiusnya pemerintah.
Andaikan, evakuasi
tidak telat datang.
Tidak telat mengakui
kecelakaan. Masih ada harapan untuk selamat. Rakyat-rakyat yang hanya berpasrah hidup di negara
yang penuh rahasia. Ratusan, ribuan nyawa rakyat
menjadi makanan. Ribuan,
jutaan warga terkena
kanker. Puluhan ilmuwan
tertikam, terjebak dan hanya tinggal
nama.
ditulis oleh : Osa
Komentar
Posting Komentar