SASASTRA: Surat Malam buat Dwi Hartini - Billya Alwajdi

Puisi Naratif: Surat Malam buat Dwi Hartini


Akan ku mulai surat ini dengan cerita semalam.

Ya sebagaimana kau tau semalaman kemarin aku tak memejamkan mata karena mendengar suara-suara yang adalah suaramu,

tenang mengalun ke dalam telinga.

Kali ini bukan warna biru yang kurasai melainkan suara yang mendesah seperti angin hijau,

ah kekasih aku jadi ingat Biksu Tong Sam Cong ketika berangkat ke India mencari Kitab Buddha,

kau tau senjata yang dipakai Sun Go Kong muridnya aku lupa namanya yang jelas ia dapat mempanjang setinggi Gunung Tai yang terlampau hijau,

akan tetapi senjata itu dapat menyusut sekecil jarum dan Sun Go Kong sering menyimpannya di belakang telinga,

sungguh itu roman yang lucu kekasihku seperti kamu,

lucu dan begitu memikat hatiku.


Sejauh ini bagaimana wi,

kamu pasti menantikan sesuatu ya?

Sabar ya belum selesai ku tulis semua, nanti pasti terkirim segera.

Oiya siang tadi ketika matahari mengambang di atas kepala selepas jumatan tentunya,

aku mendadak berdoa dengan narasi yang kuajukan kepada Tuhan, buatmu just for you.

Dalam doaku kau terasa seperti cemara yang hijau,

bergoyang di sapu angin laut sekitar rumahku dan di sore harinya hujan mengguyur,

aku tiba-tiba gelisah entah kenapa?

Yang jelas kegelisahanku salah satunya tertuju padamu


Tapi wi, kadang aku berfikir apakah nyata semua ini?

Perasaan ini, hubungan ini?

Tapi kalau ini tak nyata mengapa dirimu mampu menyusup dan menyentuh ke dasar jiwaku?

Entahlah, entahlah, entahlah...


Jika ini tak nyata mengapa kau mampu menjadi serangkaian nyanyian bagi rongga hampa di jiwaku ketika aku tengah dilanda kesunyian panjang,

sayang ahir-ahir ini  aku sering berdoa untuk keselamatan dan kesejahteraan hidupmu entah aku tak tau sebabnya?

Apa itu salah satu tanda seorang tengah jatuh cinta?

Dan apakah kamu mengalami hal yang sama?

Apakah ada barang sejenak dalam hari-harimu pikiran tentangku atau keinginan mengetahui keberadaanku?

Hisyam tengah apa, apa ia baik-baik saja dan pertanyaan semacamnya.


Yah aku memang tak pantas berharap banyak,

perempuan seanggun dirimu pasti banyak yang menjaga dan mengelilingi,

banyak juga yang suka, bahkan menaruh rasa.

Tapi aku pemenangnya bukan?

Hehe tapi aku belum dapat penghargaan sebelum kamu benar-benar ada di depanku,

nyata bukan hanya suara atau Vc semata,

sungguh aku menantikan hari iti tiba,

sungguh... kadang juga aku sempat berfikir mengapa kamu mau menerimaku,

kamu bilang aku berbeda,

barangkali itu benar?

Perempuan dengan mata dan wajah yang bening sepertimu menyukaiku membuatku tak henti-henti mengucap Alhamdulillah.



Wi, dalam doaku malam ini kau berhasil menyatu dengan denyut jantungku...ya denyut jantungku.

2020



Iradat Karena

Buat Dwi Hartini

Karena aku mencintaimu; maka setiap senja ku lukis wajahmu di udara


Pelupukmu mengerjap seperti matahari,

desah napas yang harum itu merangkai kebahagiaan dari satu pulau ke pulau lainnya mengitari dunia.

Karena aku mencintaimu maka ku sisihkan kabut-kabut itu agar lembah dan tanah menumbuhkan bunga di atasnya, untukmu saja.

Karena aku mencintaimu, maka ku pandang wajahmu dengan cinta,

meski hanya wajah yang terpantul dari telaga atau bunga mimpi semata

Di samping daun-daun kemuning yang tanggal, di pinggir telaga yang tenang arusnya.

Ku sebut namamu dengan suara yang penuh rindu

Karena aku mencintaimu, manisku, dengan cuaca berwarna biru

2021


Bunga Lima Puluh Hari

Bunga lima puluh hari telah sampai mengecup pipi

Linang-linang embun yang menyertai

Bunga lima puluh hari

Kecemasaan dan ragu-ragu tak lagi hinggapi

Bunga lima puluh hari

Mengikat janji dengan kupu-kupu dan lebah

Untuk esok yang lebih cerah

2021


Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu