SASASTRA - Misteri Rumah Tua

 Misteri Rumah Tua

Oleh: Nana


Hari itu semburat merah jingga di langit sudah terlihat, namun tiga sahabat bernama Doni, Diki, dan Jovan memutuskan untuk menjelajahi rumah tua yang terkenal angker di pinggiran kota mereka dan dijadikan wahana escape room. Mereka penasaran dengan cerita-cerita seram yang beredar setelah teman-teman yang lain mengunjunginya. 


“Aku takut van, kalian aja ya yang masuk,” Diki berujar sambil memasang ekspresi ingin menangis.


Jovan berdecak,”badan aja yang besar, sama ginian aja takut, Dik.”


Sedangkan Doni hanya tertawa melihat teman-temannya. Dengan raut muka keberatan akhirnya Diki ikut masuk ke dalam, mereka memasuki pintu besi yang lapuk dan melewati lorong gelap menuju dalam rumah. Setelah melewati beberapa ruangan terbengkalai yang berdebu, mereka menemukan sebuah pintu terkunci dengan rantai dan gembok emas besar. Mereka yakin harus menemukan kunci untuk keluar dari tempat ini, dan merasa tertantang untuk menemukan kunci yang sesuai. 


Mereka mengelilingi rumah dan menemukan petunjuk yang aneh dan menyimpulkan bahwa kunci yang mereka cari ada di lantai dua rumah ini. Mereka pelan-pelan menaiki tangga yang retak dan berdebu, dengan hati yang berdebar-debar. Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari lantai atas yang sangat keras diantara suara tangga yang berdecit. Sontak kami bertiga berhenti di tengah-tengan tangga. Diki yang paling penakut ikut berteriak dan sudah bersembunyi di belakang tubuh Jovan. 


“Woy itu siapa, Don cek ke atas Don,” Diki berteriak panik.


“Santai Dik, itu orang kali yg tugas jadi setan,” Doni menjawab santai.


Jovan menyaut, “eh, bentar tapi kok merinding ya Don.”


“Ya karena kamu takut, Van,” Doni menyahut malas.


Doni merasa teman-temannya penakut semua. Kemudian Doni menarik Diki dan Jovan untuk lanjut naik tangga. Setelah sampai di lantai dua mereka memasuki sebuah kamar dan menemukan kotak kayu bermotif yang terkunci. Doni membuka kotak itu, ada kunci yang mereka cari untuk keluar. Namun, saat mereka merasa senang dengan kunci yang mereka temukan, terdengar suara misterius yang dari lantai bawah. Dan tak lama, pintu kamar yang mereka masuki tiba-tiba tertutup dengan keras. 


Mereka berusaha membuka pintu, namun sia-sia dan terjebak di kamar tersebut. Tanpa ada jalan keluar, mereka saling menatap cemas. Saat suasana makin tegang, Jovan menyadari ada yang aneh dengan kotak kayu di depannya tempat kunci ditemukan tadi. Jovan membuka kotak tersebut, dan terkejut menyadari kunci yang tadi tidak ada di dalamnya. Sebaliknya, ada catatan yang berisikan teka-teki.

 

“Coba bacakan, Jovan,” ucap Doni


"Dalam setiap kesulitan terdapat jalan keluar, carilah cermin di lorong dan temukan kebenaran yang tersembunyi,” Jovan mengernyit bingung.


Mereka bingung dengan apa yang dimaksud teka-teki tersebut, namun tidak punya pilihan selain mencari jalan keluar. Mereka membuka pintu lain dan melanjutkan perjalanan di lorong gelap dan mencari cermin yang dimaksud. Setelah beberapa saat, mereka menemukan cermin tua besar yang ada di ujung lorong. Mereka berdiri di depan cermin dan terperangah dengan apa yang dilihat. 


Bayangan mereka di cermin terlihat berbeda dengan penampilan aslinya. Jovan yang tubuhnya tinggi, tampak menjadi sangat pendek di cermin, sementara Diki yang badannya besar, tampak kurus sekali, dan Doni yang paling pendek menjadi sangat tinggi di cermin. Mereka menyadari bahwa cermin itu berbeda dan bisa memanipulasi penampilan mereka. Kemudian Doni sadar akan sesuatu.


“Menurutku teka teki itu menjelaskan jika pintu yang terkunci bukan pintu fisik, namun pemahaman kita tentang diri sendiri,” ucap Doni dengan mimik serius.


Jovan dengan semangat menjawab, “bisa jadi, ini alasan kenapa kunci yang tadinya ada hilang.”


Kemudian dengan berani mereka saling berbicara dan berbagi tentang kelebihan dan kekurangan masing-masing dimulai dari Diki. Mereka menyadari saat saling menerima dan menghargai satu sama lain, bayangan di cermin berubah cermin itu tiba-tiba bergeser menunjukkan jalan. Mereka akhirnya keluar dari ruangan itu dengan perasaan lega, menyadari jika teka-teki itu buka tantangan fisik yang harus diatasi, namun perjalanan mereka untuk menerima diri mereka sendiri serta sahabatnya dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. 


Karena pengalaman hari itu, Doni, Diki, dan Jovan tidak hanya menjadi teman, namun mereka saling menganggap menjadi keluarga yang saling mendukung dan menghargai. Mereka belajar jika bisa saja jawaban dari teka-teki hidup ada dalam diri mereka sendiri, dan jika mereka bersama tidak ada yang tidak mungkin mereka atasi.


Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu