SASASTRA: Aku Adalah Harap yang Tidak Lagi Kamu Bisikkan Inginnya

Aku Adalah Harap yang Tidak Lagi Kamu Bisikkan Inginnya

oleh: Ariska R. Sani


        Ada lebih dari sejuta bintang di angkasa. Ah, bahkan tak hanya jutaan, melainkan milyaran. Namun, hanya mentari yang mampu menerangi bumi dan memberikan kehidupan padanya. Hanya mentari yang mampu memberikan kehangatan dan cahaya. Hanya mentari yang pada dasarnya sama dengan bintang-bintang lainnya, bahkan bukan yang terbesar, bukan yang terpanas, mungkin juga bukan yang terindah, tetapi Ia menjadi yang paling terkenang dan paling dikenal oleh manusia di bumi.

        Sebagaimana manusia-manusia itu melihat mentari sebagai matahari, sebagai apa adanya dirinya, seperti itu pula aku melihatmu. Kamu adalah cahaya dan kehangatan yang selalu aku nantikan kehadirannya. Kamu mungkin manusia biasa. Bukan yang tertinggi, bukan yang terkaya, bukan yang sempurna tanpa celah. Namun, bagiku kamu adalah kamu. Manusia yang selalu terkenang dalam sudut-sudut ingatan. Manusia yang selalu memberikan kehangatan.

        Kamu adalah jawaban terindah dari setiap doa-doa yang aku panjatkan kepada Tuhan. Kamu adalah anugerah terindah yang aku nanti-nantikan pemberiannya oleh Tuhan. Kamu adalah semesta yang menjadi poros dari tiap-tiap mimpi yang aku harapkan. Kamu adalah dahlia, mawar, daisy, melati, dandelion, anggrek, dan bahkan kamboja, sebab kamu adalah keindahan di setiap langkah kehidupan yang aku lakukan.

        Sepertinya cuma kamu laki-laki yang berhasil membuat aku jatuh cinta sedalam ini. Cuma kamu, laki-laki yang menjadi alasan dari tumbuhnya tulisan-tulisanku di media sosial ataupun diary. Entah berapa banyak puisi tentangmu yang telah aku ciptakan,  entah berapa banyak sajak yang telah aku lantunkan. Bahkan ketika aku berusaha untuk menulis tentang orang lain, kamu selalu memiliki tempat tersendiri di dalam tulisan itu.

        Karena kamu adalah warna. Warna yang tak akan pernah bisa hilang atau memudar dalam selembar mori yang telah aku canting sebelumnya. Kamu adalah pelengkap dari setiap tetes malam yang aku torehkan dalam kain putih yang usang. Kamu adalah warna yang memberi keindahan pada hitam-putih kain yang aku gunakan. Sayangnya, kamu juga merupakan harga yang tak akan pernah mampu untuk aku bayarkan.

        Sudut ruangan masih menyisakan canda yang begitu candu antara aku dan kamu. Duka nestapa, senang bahagia, agaknya tak ada beda sebab yang ada hanyalah cinta. Telisik hati mengantarkanku pada kerinduan yang semakin mendalam. Kemudian menjelma menjadi sosok hitam yang membisikkan kalimat-kalimat perpisahan. Aku adalah harap yang kini tak pernah lagi kamu bisikkan inginnya. Aku adalah  rasa yang kamu biarkan mati dengan sendirinya. Aku dan kamu kini adalah sepasang kekasih yang tak pernah menemukan muara akhirnya.

        Kini aku mendekap kesendirian. Mengiring doa atas harapan agar kamu selalu sehat dan bahagia. Aku akan tetap menjadi pengagum paling setia yang tak akan pernah kamu temukan sebelumnya atau bahkan selanjutnya. Aku akan terus di sini hingga langkah membawamu kembali atau kematian yang akan menjemputku pergi.

Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu