Ki Hajar Dewantara: Perjuangan, Pengabdian, dan Nasionalisme

 

sumber: pinterest.com


Latar Belakang Ki Hajar Dewantara

Ki Hajar Dewantara lahir dan besar di Yogyakarta pada 2 Mei 1889 sebagai cucu dari Sri Paku Alam III. Hal tersebut menjadikan ia sebagai darah biru, seorang bangsawan jawa yang mengenyam pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) sekolah untuk anak-anak Eropa. Hingga kemudian bersekolah di STOVIA yang tidak tamat karena sakit. Sejak kecil ia sudah diperkenalkan dengan pendidikan dan pernah sekolah guru di Kweek School.



Perjuangan di Masa Kolonialisme

Ki Hajar Dewantara termasuk salah satu aktivis yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui bidang politik dan jurnalistik. Bersama dengan dr. Ciptomangunkusuma dan Douwes Dekker, Ki Hajar mendirikan Indische Partij (partai politik yang memiliki aliran nasionalisme Indonesia) pada 25 Desember 1912. Selain itu, Ki Hajar Dewantara juga merupakan seorang jurnalis yang karya-karyanya kerap dimuat di beberapa surat kabar. Salah satu tulisan beliau yang kontroversial berjudul Als ik een Nederlander was (Andai Aku Seorang Belanda) yang dimuat dalam surat kabar De Expres berisi tentang kritik terhadap sikap Belanda yang sewenang-wenang di Indonesia membuat beliau akhirnya ditangkap dan diasingkan ke Belanda.



Kontribudi di Bidang Pendidikan

Ki Hadjar Dewantara memiliki peran dalam mendirikan Taman Siswa, yakni sebuah sekolah bagi golongan pribumi (National Onderwijs Institut Taman Siswa) pada 3 Juli 1922. Terbelenggunya pemerataan hak masyarakat Indonesia dalam mengakses pendidikan, menjadi latar belakang didirikannya Taman Siswa. Kala itu, Belanda sengaja membatasi jumlah penduduk pribumi yang dapat mengakses pendidikan (hanya keturunan priyayi) dikarenakan khawatir akan membahayakan keberadaan mereka. Pembatasan dilakukan, mulai dari tingginya biaya pendidikan sampai tuntutan dari sistem penilaian yang intelektualis-mengutamakan tujuan mendapat nilai tinggi dalam raport dibandingkan pengembangan diri. Taman Siswa didirikan atas tujuan menggantikan pendidikan yang sifatnya intelektualis, individualis, dan materialistis dengan pendidikan yang lebih humanis dan merata.


Ki Hajar Dewantara juga memiliki konsep dan sistem pendidikan sendiri, yang dikenal dengan sistem among. Sistem Among adalah metode yang sesuai untuk pendidikan karena metode pengajaran ini didasarkan pada asih, asah, dan asuh. Ki Hadjar Dewantara mempunyai semboyan, yaitu “Tut wuri handayani, Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso”. Ing Ngarso Sung Tulodo berarti seorang pemimpin mampu menjadi suri tauladan. Ing Madyo Mangun Karso, berarti ditengah kesibukannya mampu membangkitkan semangat. Tut Wuri Handayani, harus memberi dorongan moral serta semangat kerja dari belakang. Semboyan Tut Wuri Handayani saat ini menjadi slogan Kementerian Pendidikan Nasional Indonesia.


Pengabdian setelah Indonesia Merdeka

Setelah masa kemerdekaan Indonesia, perjuangan dan pengabdian Ki Hajar Dewantara khususnya di bidang pendidikan terus berlanjut. Hal itu dibuktikan dengan diangkatnya beliau menjadi Menteri Pengajaran Republik Indonesia yang pertama (sekarang Menteri Pendidikan). Selain itu, berkat jasa-jasanya di bidang pendidikan, pemerintah melalui Surat Keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959, memberikan gelar “Bapak Pendidikan Nasional” kepada Ki Hajar Dewantara dan hari lahirnya, yaitu tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional.




Oleh: Tim Jurnalistik MPI 2023


Referensi:

  • Kumalasari, D. (2010). Konsep Pemikiran Ki Hadjar Dewantara Dalam Pendidikan Taman Siswa (Tinjauan Humanis-Religius). ISTORIA. VIII (1). 47-59.


Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu