Sekilas Mengenai R.A. Kartini

 

Masa Kecil Kartini

R.A. Kartini dari kecil menjadi perempuan yang suka dengan ilmu, beliau masuk ke sekolah Europese Lagere School (ELS). Setelah lulus dari ELS pada tahun 1892, beliau ingin melanjutkan sekolah di Hoogere Burger School (HBS) Semarang. Tapi ada keraguan karena terbentur dengan aturan adat. Saat itu, bagi kaum ningrat wanita harus menjalani pingitan. R.A.Kartini baru berusia 12 tahun saat masa pingitan dan harus berpisah dari dunia luar. Namun, tidak putus asa, Kartini menambah pengetahuan dengan rajin membaca apapun pemberian dari kakaknya (Raden Mas Slamet) dan juga ayahnya walau beliau tidak melanjutkan sekolah.

 

Latar Belakang Pendidikan 

R.A. Kartini mengenyam pendidikan di Europese Lagere School (ELS). Di sekolah inilah beliau menuntut ilmu dan juga belajar bahasa Belanda hingga usia 12 tahun. Pendidikannya lantas pupus akibat dari kebiasaan perempuan harus tinggal dirumah (dipingit). Meskipun berada di rumah, beliau tidak berhenti belajar dan membaca buku. Beliau juga memperluas pengetahuannya lewat korespondensi dengan rekannya di Belanda.

 

Keadaan Perempuan Jawa di Era Kartini

Perempuan kala itu dikekang kebebasannya, terikat oleh adat dan budaya Jawa. Hidup dalam kondisi marginal membuat perempuan era Kartini dianggap tidak perlu mendapat pendidikan selayaknya laki-laki maupun kaum bangsawan. Perempuan di masa itu dalam posisi inferior dari laki-laki. Peran perempuan sebatas “konco wingking” alias melayani urusan belakang, dengan tugasnya hanya terpaku pada tiga hal, sumur, dapur, dan kasur. Mereka dinikahkan pada saat usianya masih sangat belia (10–12 tahun). Ketidakadilan lain  terhadap perempuan kala itu ialah suburnya poligami dan kesewenang-wenangan suami. Selain itu, para orang tua banyak yang mendorong putri mereka untuk menikah dengan kaum bangsawan agar hidupnya terhormat dan memperoleh kemewahan. 

 

Akhir Hayat Kartini

Raden Ajeng Kartini menikah karena perjodohan dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, seorang bupati Rembang. Suaminya tersebut telah memiliki 3 istri. Namun, karena ingin berbakti pada ayahnya ia menerima perjodohan tersebut dengan beberapa syarat. Setelah menikah, ia melahirkan seorang putra bernama Raden Mas Soesalit. Beberapa hari setelah Kartini melahirkan ia meninggal karena pre-eklampsia.

 

Karya dan Buku Kartini

Sepeninggal R.A. Kartini, kumpulan surat-surat yang dikirim Kartini kepada sahabat-sahabatnya di Belanda, dibukukan dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht atau lebih dikenal dengan “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Dalam buku tersebut berisi surat-surat Kartini yang menceritakan mengenai perjuangannya sebagai perempuan Jawa di masa itu serta pandangannya atas sistem dan budaya yang menghambat kemajuan bangsanya. Buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan pada 1911 dan disusun oleh JH Abendanon, sahabat Kartini yang juga seorang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Belanda saat itu. 

 




*Oleh: Tim Jurnalistik MPI 2023

Referensi:

Bestari, N. (2022). Mengulik Isi Buku 'Habis Gelap Terbitlah Terang' Karya RA Kartini - Semua Halaman - Bobo. Bobo.ID. https://bobo.grid.id/read/083246043/mengulik-isi-buku-habis-gelap-terbitlah-terang-karya-ra-kartini?page=all. Diakses pada 21 April 2023.

CNN Indonesia. (2023). Perjuangan RA Kartini untuk Kaum Perempuan Indonesia. CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/edukasi/20230418134033-569-939289/perjuangan-ra-kartini-untuk-kaum-perempuan-indonesia. Diakses pada 21 April 2023.

Daruwati, M. K. (2022, April 22). RA Kartini Meninggal Dunia Karena Preeklamsia, Kenali Gejala dan Tandanya. Kompas.com. https://www.kompas.com/parapuan/read/533250167/ra-kartini-meninggal-dunia-karena-preeklamsia-kenali-gejala-dan-tandanya. Diakses pada 20 April 2023.

Fiona, D. (2022, 7 April). Sejarah Raden Ajeng Kartini: Perjalanan Emas Masa Kecil hingga Meninggal Dunia. Orami. https://www.orami.co.id/magazine/sejarah-raden-ajeng-kartini. Diakses pada 19 April 2023.

Sudrajat. (2015). Kartini : Perjuangan dan Pemikirannya. MOZAIK : Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, 2 (1). DOI : http://dx.doi.org/10.21831/moz.v2i1.4489. Diakses pada 20 April 2023.

Komentar

Rekomendasi

SASASTRA - Roda Itu Berputar

SASASTRA - Abu-abu by Nofiaara

SOTD - Pangeran di Balik Topeng

SOTD - Yang Tak Terucap

SOTD — Mawar yang Tak Pernah Layu